Senin 10 Feb 2014 20:06 WIB

Garuda Akan Ambil Alih Rute Merpati Nusantara

Garuda Indonesia
Foto: wichdan hidayat
Garuda Indonesia

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, Emirsyah Satar menyatakan siap mengambil rute Merpati apabila terdapat rute penerbangan Merpati yang cocok dengan Garuda.

"Kalau kita bisa melakukan, ya kita lakukan. Rutenya saja ya. Tetapi kami belum tahu rute-rutenya Merpati, tentunya kalau bisa dilayani oleh ATR atau pesawat kita, kita akan lakukan," kata Emir usai memberi keterangan pers "Laporan Kinerja Keuangan Garuda" di kantor Garuda Indonesia, Tangerang, Senin.

Emir menegaskan, Garuda Indonesia tidak menangani rute penerbangan Merpati dengan pesawat kecil atau perintis. "Karena Merpati kan punya pesawat lebih kecil tetapi Garuda nggak punya pesawat kecil," ujarnya.

Emir belum memberi kepastian sikap, apakah Garuda akan memiliki saham 3,6 persen dari Merpati itu akan mengambil Merpati atau tidak.

"Garuda ini kan Tbk, jadi apapun langkah korporasi yang kita lakukan itu harus meningkatkan value pada Garuda, karena kita Tbk. Dan kita harus open. Jadi sampai saat ini kita belum melakukan apa apa, kita juga belum ditawarkan," ujarnya.

Sementara itu, PT Citilink yang merupakan anak perusahaan Garuda Indonesia telah mengajukan kepada Kementerian Perhubungan untuk mengambil rute Merpati.

Direktur Utama PT Citilink Arif Wibowo mengungkapkan, perusahaannya mengaku akan mengambil alih rute penerbangan untuk wilayah Indonesia Timur.

"Kita sudah mengajukan ke Kementerian Perhubungan tetapi kan ada rute yang baling-baling yang nggak bisa kita ambil. Jadi kita akan mengajukan untuk di Indonesia Timur dimana Citilink nggak punya," kata Arif.

"Saya ingin rute ke Indonesia timur seperti Papua. Pokoknya yang basisnya Makassar. Saya belum bisa declare nanti orang minta semua lagi," tambahnya.

Kondisi Merpati saat ini terbebani utang sekitar Rp 6,7 triliun. Padahal restrukturisasi perusahaan tersebut sudah dijalankan sejak tahun 2005 dengan penyuntikan dana dalam bentuk Penyertaan Modal Negara (PMN), pemberian dana subloan agreement (SLA) untuk pembelian investor.

Perusahaan penerbangan "plat merah" tersebut telah menghabiskan dana hingga sekitar Rp 3,6 triliun untuk menyelamatkan Merpati namun hingga kini belum membuahkan hasil.

Saat ini, Merpati mengalami defisit kas perusahaan, penghentian operasi sejumlah rute penerbangan, tunggakan asuransi, hingga tunggakan biaya gaji karyawan.

sumber : antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement