Sabtu 01 Feb 2014 20:42 WIB

Penerimaan Hasil Ekspor BRI Naik

Logo of Bank BRI (file photo)
Foto: Republika/Adhi Wicaksono
Logo of Bank BRI (file photo)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh : Satya Festiani, Friska Yolandha

JAKARTA -- Bank Rakyat Indonesia (BRI) mencatat penerimaan hasil ekspor melalui perseroan selama 2013 dalam renminbi (RMB) mencapai empat miliar RMB. Saat ini, RMB atau mata uang yuan Cina mulai menyaingi mata uang dolar AS.  Sekretaris Perusahaan BRI Muhammad Ali mengatakan, RMB juga menjadi mata uang ketiga terbesar dari sisi nilai transaksi yang kerap digunakan untuk tran saksi letter of credit (L/C). BRI meihat peluang tersebut dan membuka layanan dalam mata uang RMB sejak 2010.

Layanan RMB yang disediakan BRI, antara lain, transaksi ekspor impor, remitansi, penukaran mata uang, maupun simpanan baik giro atau deposito. "Layanan tersebut efektif dimanfaatkan oleh nasabah perusahaan," ujarnya, Jumat (31/1).

Selama 2013, BRI mencatat pe - ne rimaan hasil ekspor melalui BRI dalam RMB sebesar empat miliar RMB. Sedangkan, transaksi jual beli lewat layanan penukaran mata uang yang sudah dilakukan pada 2012 mencapai 3,9 juta RMB. Volume perdagangan yang tinggi di antara Indonesia dan Cina merupakan peluang bagi BRI untuk meningkatkan layanannya."Kami optimistis dengan jasa ini. Apalagi, saat ini Cina jadi kekuatan ekonomi terbesar dunia yang perdagangannya sangat bagus dengan kita," ujarnya. Hubungan dagang Indonesia dan Cina semakin erat dari tahun ke tahun.

Wakil Presiden Boediono mengatakan, pemerintah menargetkan perdagangan bilateral kedua negara tersebut mencapai 50 miliar dolar AS pada 2014. Sebelumnya, Cina juga telah mengukuhkan diri menjadi eksportir terbesar dunia. Pada 2010 Cina mengambil alih posisi Jepang sebagai negara ekonomi dunia terbesar kedua.Perusahaan telekomunikasi interbank Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication (SWIFT) mendaulat RMB sebagai mata uang kedua yang paling banyak dipakai untuk transaksi global. "Renminbi menjadi mata uang utama untuk perdagangan global, terutama di Asia," ujar Kepala SWIFT untuk Asia Pasifik Franck de Praetere seperti dikutip Bloomberg.

Penggunaannya di keuangan global bahkan mengalahkan mata uang negara Schengen, euro. Pangsa pasar RMB mencapai 8,66 persen atas letters of creditdan koleksi mata uang pada Oktober 2013. Se - dangkan, kepemilikan euro hanya 6,64 persen. (ed:fitria andayani)

Informasi dan berita lainnya silakan dibaca di Republika, terimakasih.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement