Senin 06 Jan 2014 01:37 WIB

Penjualan Elpiji12 Kg Mulai Melesu

Pekerja mengangkut tabung 12 kilogram berisi liquefied petroleum gas (LPG atau elpiji).
Foto: Republika/Aditya Pradana Putra
Pekerja mengangkut tabung 12 kilogram berisi liquefied petroleum gas (LPG atau elpiji).

REPUBLIKA.CO.ID, PAREPARE -- Setelah kenaikan harga gas elpiji yang diumumkan Pertamina dari harga Rp 70.200 per tabung menjadi Rp 117.708 per tabung, berdampak pada menurunnya permintaan konsumen terhadap gas elpiji isi 12 kilogram.

"Penjualan pun lesu ini membuat omset turun drastis sekitar 70 persen dibanding permintaan sebelum Pertamina menaikkan harga gas dengan alasan merugi," kata salah seroang karyawan PT Gas Mita Parepare Dian Karyawan menanggapi keluesuan pangsa pasar elpiji ukuran tabung 12 kg, Ahad (5/1).

Dealer elpiji terbesar di Parepare tersebut sejak beberapa hari terakhir lengang. Tidak seperti hari-hari sebelumnya. Warga yang memesan epiji terlihat hanya satu-satu. Padahal sebelumnya, perusahaan tersebut kerap ramai didatangi pedagang pengecer maupun warga yang ingin memesan gas.

Sementara itu, sejumlah karyawan petugas pengantar gas pun pada Minggu lebih banyak yang nongkrong, karena tidak adanya pemesanan.

Menurut Dian, kenaikan elpiji 12 kg pada tingkat agen dari Rp 87 ribu menjadi Rp 127.500 per tabung, ikut memicu lesunya pembelian konsumen terhadap gas tabung 12 kilogram. "Inilah yang menyebabkan permintaan gas di sejumlah dealer, ikut menurun," katanya.

Biasanya, kata Dian, PT Gas Mita bisa menjual hingga 200 tabung elpiji ukuran 12 kilogram per harinya. Namun sekarang, hanya bisa terjual paling tinggi 50 tabung saja. Bahkan pada Sabtu (5/1) tak satupun gas ukuran 12 kilogram yang terjual.

Hal itu karena sebagian konsumen langganannya beralih ke elpiji isi tiga kg. Tak hanya dealer, kenaikan harga elpiji pun berdampak pada pekerja jasa antartabung gas.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement