Ahad 08 Sep 2013 17:18 WIB

Pemerintah Imbau Perajin Tahu Tempe Tidak Mogok Produksi

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Nidia Zuraya
Perajin tahu mengerjakan pembuatan tahu berbahan kedelai.
Foto: Republika/Aditya Pradana Putra
Perajin tahu mengerjakan pembuatan tahu berbahan kedelai.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Perdagangan (Kemendag) Indonesia Gunaryo mengaku bahwa pihaknya telah berupaya mengimbau agar para perajin tahu dan tempe tidak mogok produksi mulai Senin (9/9) besok hingga Rabu (11/9). Dia membantah mengenai kemungkinan adanya praktik kartel kedelai.

Gunaryo juga mengaku  tidak terburu buru dalam mengindikasikan. “Jadi harus dicermati dulu secara mendalam. Tetapi kita akan mendukung upaya-upaya menghilangkan kartelisasi,” tuturnya kepada ROL, Ahad (8/9).

Pihaknya menegaskan tidak akan menghalang-halangi pemberantasan kartel demi terwujudnya iklim usaha yang adil. Dia menjelaskan, penyebab kenaikan harga kedelai adalah karena kedelai yang ada di Indonesia mayoritas dipenuhi dari kedelai impor yaitu sebanyak 80 persen. Sehingga, harganya mengalami kenaikan akibat menguatnya kurs dolar AS terhadap mata uang rupiah. “Koreksinya relatif tinggi dibandingkan dua bulan lalu yang akhirnya berpengaruh ke harga kedelai,” katanya. 

Namun dia menegaskan, kondisi menguatnya dolar AS juga terjadi di negara-negara lain. Penyebab lainnya, kata Ginaryo,  yaitu panen kedelai lokal yang baru terjadi di daerah tertentu seperti Aceh. Jadi, panen belum terjadi di semua tempat. Untuk itu, pihaknya meminta supaya para perajin memahami kondisi tersebut. 

“Kami juga sudah berkomunikasi dengan Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo)dan mengimbau. Para perajin supaya tidak mogok produksi tahu dan tempe,” ucapnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement