Jumat 05 Jul 2013 13:43 WIB

London Perkuat Industri Keuangan Syariah

Rep: Qommarria Rostanti/ Red: Nidia Zuraya
Muslim Inggris
Muslim Inggris

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON – London optimistis mampu memperkuat permodalan keuangan syariah negaranya. Ibukota Inggris tersebut hendak meningkatkan saham pasar keuangan syariah. Pasalnya sektor ini diperkirakan terus berkembang. Aset keuangan syariah saat ini saja telah mencapai 1,6 triliun dolar AS.

“Ada peluang besar bagi London untuk memperkuat posisi permodalan dalam keuangan syariah apalagi setelah banyak berdiskusi dengan Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak,” Walikota London, Boris Johnson seperti dikutip Financial Times, Jumat (5/7).

Dukungan yang diberikan kepada London adalah dengan diselenggarakannya World Islamic Economic Forum (WIEF) di kota tersebut . London menjadi kota pertama di luar dunia Muslim yang terpilih menjadi tempat penyelenggaraan event keuangan syariah internasional tersebut pada Oktober mendatang.

Keuangan syariah sesuai prinsip-prinsip Alquran yang melarang penggunaan bunga. Pengaturan alternatif kompleks ini memungkinkan Muslim menggunakan produk-produk keuangan seperti sukuk dan asuransi syariah tanpa khawatir terpuruk karena terpengaruh inflasi. Menurut laporan The City UK, aset keuangan syariah telah tumbuh signifikan. Pada 2010, aset keuangan syariah pada 2010 hanya 826 miliar dolar AS.

Peran London dalam keuangan syariah dimulai pada awal 2000-an, ketika regulator membawa reformasi meringankan penggunaan produk syariah. “Kami menghabiskan banyak waktu membentuk peraturan yang patut bagi keuangan syariah,” kata salah seorang pejabat tinggi London, Roger Gifford. Sudah ada 25 firma hukum di London yang menawarkan keahlian keuangan syariah.

Saat ini Inggris memiliki tiga bank syariah berlisensi dan 22 bank konvensional yang kini menawarkan layanan perbankan syariah, termasuk pelaku pasar terkenal HSBC dari Royal Bank of Scotland serta Barclays yang merupakan cabang London Citigroup.

Beberapa proyek telah melibatkan produk syariah, termasuk investasi 150 miliar poundsterling untuk Gedung Shard Qatar serta pembangunan Barak Chelsea dengan dukungan dari keuangan Negara Teluk. Investor Kuwait pun telah menggunakan instrumen keuangan syariah untuk membeli produsen mobil mewah Aston Martin pada 2007.

Sayangnya, sektor ini mengalami pangsa bermasalah. Pertumbuhan dihentikan oleh krisis keuangan dan ketidakpastian yang disebabkan oleh Musim Semi Arab yang terhambat pemulihan. Ritel sektor ini mundur ditandai dengan HSBC yang menutup operasional perbankan retail syariah di enam pasar pada Oktober 2012.

Namun Kepala Keuangan Syariah Eropa di firma hukum Norton Rose Fulbright, Farmida Bi mengatakan di masa lalu, sebagian besar pembiayaan Teluk didominasi keuangan konvensional. “Hal itu berubah dalam tiga sampai empat tahun terakhir. Banyak pembiayaan di wilayah tersebut yang kini didominasi syariah,” kata dia.

 

Direktur Jasa Keuangan perusahaan auditor KPMG, Samer Hijazi mendesak Kementerian Keuangan Inggris  untuk menghidupkan kembali rencana menerbitkan sukuk yang sempat terhenti karena krisis keuangan global. “Penerbitan sukuk akan mendorong sektor dan posisi Inggris dalam keuangan syariah,” ucap Hijazi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement