Rabu 05 Jun 2013 12:32 WIB

Indonesia Pernah Kehilangan Pulau karena Rupiah

Mata uang Rupiah
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Mata uang Rupiah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Ronald Waas mengingatkan bahwa Indonesia pernah kehilangan dua pulau karena ketiadaan rupiah, sehingga menurut dia pendistribusian uang kartal ke pulau-pulau terluar penting untuk dilakukan.

"Kita pernah kehilangan dua pulau, Sipadan dan Ligitan. Saat itu yang menjadi pertimbangan Mahkamah Internasional hanya satu poin yaitu bahwa transaksi di sana tidak menggunakan rupiah, tapi mata uang negara tetangga," kata Ronald Waas di Gedung BI, Jakarta, Rabu (5/6).

Dia mengatakan bahwa distribusi rupiah ke daerah-daerah pelosok, khususnya daerah perbatasan menjadi sangat penting untuk memastikan kecukupan dan penggunaan rupiah di daerah tersebut. Saat ini Bank Indonesia telah membangun kerja sama dengan kementerian dan lembaga lain untuk bisa mendistribusikan rupiah ke pulau terluar dengan aman dan efisien.

"Saat ini kami sudah kerja sama dengan TNI AL untuk distribusinya, karena kalau menggunakan ekspedisi komersial, distribusinya bisa tertunda karena masalah teknis," kata dia.

Dia mengatakan sekali melakukan distribusi, BI dapat membawa sekitar Rp15-20 miliar uang kartal dengan beragam pecahan. Dalam pendistribusian itu BI biasanya juga membuka kesempatan bagi masyarakat setempat untuk melakukan penukaran uang lusuh yang masih berlaku. "Sejauh ini kami telah melakukan distribusi ke Pulau Miangas, Kepulauan Natuna melalui jalur Batam, dan perbatasan di Papua," paparnya.

Ke depannya kata Ronald, BI akan memperluas kerja sama distribusi uang kartal dengan TNI Angkatan Udara. Hal ini disebabkan distribusi dengan bantuan TNI AL belum dapat menjangkau daerah-daerah tak memiliki pantai, seperti misalnya di perairan Papua. "Di Papua itu ada wilayah yang sulit untuk kapal mendekat, maka harus dari udara. Kami memiliki niat untuk melakukan kerja sama dengan TNI AU juga," tuturnya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement