Rabu 02 Jan 2013 22:59 WIB

Solusi 'Jurang Fiskal' AS Beri Sentimen Positif ke Indonesia

Rep: Friska Yolandha/ Red: Ajeng Ritzki Pitakasari
Kantor Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta.
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Kantor Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tercapainya kesepakatan antara Gedung Putih dan anggota senat dari Partai Republik menandakan Amerika Serikat terhindar dari jurang fiskal. Hal ini memberi sinyal positif terhadap pertumbuhan ekonomi AS yang memiliki pengaruh besar terhadap ekonomi dunia.

Analis dari Trust Securities Reza Priyambada mengatakan kebijakan AS tersebut akan berpengaruh apabila ekonomi nasional 100 persen digerakkan dari ekonomi AS. Namun karena ekonomi nasional lebih banyak digerakkan oleh ekonomi Asia, maka pengaruhnya tidak begitu signifikan.

"Namun perlu diingat negara-negara Asia banyak yang bergantung pada ekonomi AS," ujar Reza kepada Republika, Rabu (2/1). Hal tersebut berarti Indonesia akan mendapatkan efek domino dari kesepakatan tersebut.

Efek domino tersebut hanya akan terjadi apabila kesepakatan yang dibuat AS di malam tahun baru tersebut gagal mendapat restu dari DPR. Hal ini menjadi salah satu kekhawatiran pelaku pasar modal.

Pembahasan untuk menghindari jurang fiskal hanya dilakukan selama satu bulan. Efek positif pun dinilai hanya akan berlangsung selama dua bulan. Namun Reza mengatakan hal ini akan memberi waktu bagi AS untuk membuat kebijakan baru yang bisa membawa ekonomi AS jauh dari resesi. Hal ini juga akan berdampak positif terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia.

Analis dari OSO Securities Supriyadi mengatakan sedikit banyak jurang fiskal berpengaruh pada ekspor Indonesia. Tanpa terjadinya jurang fiskal tersebut ekspor Indonesia sudah menurun. "Apalagi kalau terjadi," kata dia. Pasalnya sebagian ekspor Indonesia adalah ke AS.

Untuk ke pasar modal, pengaruh dari jurang fiskal tidak akan terlihat untuk periode yang singkat melainkan pada periode jangka menengah. Namun dengan adanya kesepakatan antara Gedung Putih dan Senat, pengaruhnya akan ikut tertunda. Dampak tersebut tidak hanya akan ke pasar modal di Indonesia tetapi juga di negara lain seperti Cina dan Jepang.

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito mengatakan kesepakatan AS terkait peningkatan pajak akan membantu peningkatan pasar modal AS. Apabila hal ini terjadi, maka pasar modal yang lain akan mengikuti, termasuk pasar modal Indonesia.Kenaikan ini akan memberikan sentimen positif terhadap Indonesia. "Kalau kesepakatan ini disetujui dan diwujudkan dalam dokumentasi anggaran maka akan mendorong pertumbuhan lebih baik," ujar Ito.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement