REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA)- Pengamat perbankan, Ifan Kurniawan memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan tingkat suku bunga acuan (BI-Rate) pada enam persen, meski ada ruang menurunkan, namun belum begitu diperlukan.
Meski laju inflasi November yang mencapai 0,34 persen sedikit lebih tinggi dibanding Oktober hanya 0,27 persen, namun ruang untuk menurunkan BI Rate masih ada, katanya di Jakarta, Senin.
Ifan Kurniawan yang juga analis PT First Asia Capital mengatakan, krisis global yang masih tak menentu merupakan faktor utama yang menghambat BI menurunkan suku bunga BI Rate tersebut. Apabila BI-Rate diturunkan lagi maka dikhawatirkan akan memukul pasar domestik terutama pasar uang seperti rupiah yang masih tertekan, katanya.
BI dua bulan berturut-turut telah menurunkan BI Rate pertama 25 basis poin menjadi 6,50 persen dan kedua 50 basis poin menjadi 6,00 persen. Penurunan BI-Rate sebesar 50 basis poin itu diluar perkiraan, karena para pengamat menilai BI-Rate akan turun hanya 25 basis poin.
BI, lanjut dia akan menjaga kondisi pasar domestik tetap menarik bagi asing yang didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang tetap tinggi. "Kami optimis dengan kondisi ekonomi yang terus tumbuh dan tingkat suku bunga rupiah yang menarik akan memicu pelaku asing kembali masuk ke pasar domestik" katanya.
Ia menambahkan, Indonesia masih tetap merupakan pasar yang menarik bagi asing, meski sebagian pelaku asing saat ini berada di luar pasar domestik.
Namun dalam waktu tidak lama mereka akan kembali menginvestasikan dananya lagi, setelah beberapa lama mereka bertahan di luar pasar, katanya.