REPUBLIKA.CO.ID,SURABAYA--Indonesia memiliki cadangan zeolit sebanyak 400 juta ton, namun selama ini hanya diekspor dalam bentuk bahan mentah, kata Pembantu Rektor IV Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya Prof Dr Darminto, Senin. "Indonesia kaya akan deposit mineral zeolit yang tersebar di pulau Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, dan Maluku," katanya saat membuka Seminar Nasional Zeolit VII di Surabaya yang dihadiri akademisi, peneliti, dan praktisi.
Menurut dia, pemanfaatan zeolit yang jumlahnya cukup banyak itu, dapat dilakukan melalui penelitian yang sinergis antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, instansi pemerintah, masyarakat umum serta industri. "Sinergisitas itu akan dapat memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi peningkatan kesejahteraan rakyat yang pada akhirnya dapat menguatkan kedaulatan bangsa," katanya.
Senada dengan itu, Ketua Ikatan Zeolit Indonesia (IZI) Pusat, Dr Suwardi, mengakui bahwa potensi mineral zeolit sangat besar, namun zeolit alam selama ini hanya digali dan diekspor sebagai "raw material" yang bernilai ekonomi rendah. "Padahal, kita ketahui bahwa nilai ekonomi yang diperoleh dan nilai kerusakan alam sebagai akibat penggalian tidak seimbang, karena itu kita harus memunculkan beberapa ide positif yang nantinya dapat meningkatkan nilai ekonomi zeolit," ujarnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Seminar, Hamzah Fansuri PhD, mengatakan, seminar ini untuk mendekatkan hubungan produsen dan konsumen guna mendorong kemitraan yang lebih kondusif serta menunjang iptek dalam pengembangan zeolit. "Dengan berkembangnya pengusaha zeolit di Indonesia, diharapkan dapat meningkatkan pendapatan negara dan mengurangi produk impor sehingga menghemat devisa negara," katanya.
Seminar itu menghadirkan pembicara antara lain President of Chinese Zeolite Assosiation (CZA) Prof Shinlun Qiu PhD, Secretary of CZA College of Chemistry Jili University Prof Wenfu Yan PhD, dan Prof Jiesheng Chen dari Shanghai Jiao Tong University. Pembicara lain dalam seminar yang digelar Laboratorium Studi Energi dan Rekayasa ITS Surabaya itu berasal dari UGM Yogyakarta dan Balai Besar Sumber Daya Lahan Pertanian.