Senin 17 Oct 2011 11:47 WIB

Kondisi Semakin Mencekam, Freeport Hentikan Produksi

Rep: Fitria Andayani/ Red: Stevy Maradona
Ribuan karyawan PT. Freeport Indonesia melakukan longmarch ketika menggelar aksi unjuk rasa di Terminal Bis Gorong-gorong Timika, Papua, Senin (10/10). Aksi tersebut berakhir bentrok antara pengunjuk rasa dengan polisi.
Foto: Antara/Husyen Abdillah
Ribuan karyawan PT. Freeport Indonesia melakukan longmarch ketika menggelar aksi unjuk rasa di Terminal Bis Gorong-gorong Timika, Papua, Senin (10/10). Aksi tersebut berakhir bentrok antara pengunjuk rasa dengan polisi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pihak PT Freeport Indonesia melaporkan kondisi di Tembaga Pura dan Kuala Kencana tak kunjung aman. Hingga sebulan lebih, pemogokan masih terus berlangsung dan situasi semakin mencekam. Pihak Freeport terpaksa menghentikan sejumlah kegiatan produksi hingga kondisi terkendali dan kerusakan dievaluasi.

Juru Bicara Freeport, Ramdani Sirait menyatakan, serikat pekerja dan oknum tertentu yang telah menutup sejumlah akses jalan ke Kuala Kencana dan Timika sejak Ahad lalu.

“Mereka membokar pagar di check point 1 yang merupakan akses utama dari Kuala Kencana ke wilayah kerja kami,” katanya, Senin (17/10). Selain itu, mereka melakukan pemalangan pada ruas jalam Mile 27 yang menjadi akses ke Kuala kencana. Pemalangan juga masih terjadi di Tanggul Timur. Selain itu adanya aksi pemotongan pipa konsentrat di ruas jalan Mile 45. Beberapa kantor Freeport dirusak dan terjadi pembakaran sejumlah kendaraan operasional perusahaan.

“Sejumlah kontainer yang membawa makanan, obat-obatan, dan kebutuhan perusahaan lainnya tidak bisa dibawa masuk ke lokasi dan tertahan di pelabuhan,” katanya.

Pihak Freeport lanjutnya telah sepakat meningkatkan tawaran atas kenaikan gaji karyawan menjadi 25 persen, seperti yang diusulkan oleh pihak mediator yaitu pemerintah. sebelumnya perseroan menawarkan total persentase kenaikan pendapatan sebesar 21 persen bagi 9.000 karyawan Freeport.

Namun tawaran ini tidak diterima, sehingga mediator menyarakan perseroan untuk menaikkan lagi tawarannya. “Kenaikan sebesar 3 persen bagi perusahaan tidaklah murah karena akan meningkatkan biaya operasi kami,” katanya.

Sementara serikat pekerja Freeport menginginkan upah dibayarkan dalam dolar AS sebesar 12,5 dolar AS per jam bagi level terendah, sedangkan 43 dolar AS per jam bagi level yang lebih tinggi. Artinya dalam setahun, karyawan level terendah mendapatkan gaji sekitar Rp 47-49 juta per bulan atau sekitar Rp 600 juta per tahun. “Angka ini sudah tidak sesuai dengan azas adil dan wajar dalam pengupahan,” katanya.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi