Jumat 06 Nov 2026 06:37 WIB

Indef: Stimulus Pemerintah Belum Jawab Tekanan Kelas Menengah

Kelas menengah menghadapi tekanan pengeluaran yang semakin besar.

Rep: Frederikus Dominggus Bata/ Red: Satria K Yudha
Sejumlah warga penerima bantuan antre menerima bansos Program Keluarga Harapan (PKH) di Kantor Kecamatan Ciomas, Kabupaten, Serang, Banten, Selasa (25/2/2025).
Foto: ANTARA FOTO
Sejumlah warga penerima bantuan antre menerima bansos Program Keluarga Harapan (PKH) di Kantor Kecamatan Ciomas, Kabupaten, Serang, Banten, Selasa (25/2/2025).

JAKARTA -- Konsumsi rumah tangga Indonesia semakin bergantung pada stimulus fiskal pemerintah. Ketergantungan tersebut terlihat dari berbagai bantuan dan insentif yang terus digulirkan sepanjang 2025 hingga 2026 di tengah tekanan kenaikan harga kebutuhan pokok.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Riza Annisa Pujarama, mengatakan konsumsi rumah tangga pada kuartal III 2026 tumbuh 5,04 persen secara tahunan, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 4,89 persen. Meski demikian, pertumbuhannya menunjukkan perlambatan jika mencermati perkembangan dari kuartal I hingga kuartal III 2026.

Baca Juga

"Kita ini semakin tergantung pada stimulus fiskal," kata Annisa dalam diskusi publik bertajuk Tanggapan atas Kinerja Ekonomi Kuartal III 2026 yang digelar secara daring, Kamis (5/11/2026).

Ia menjelaskan, pemerintah secara berkala mengeluarkan stimulus fiskal untuk mempertahankan kemampuan konsumsi masyarakat. Dukungan tersebut terutama membantu rumah tangga berpendapatan menengah ke bawah yang menghadapi tekanan biaya hidup.

Annisa mencontohkan peningkatan pengeluaran konsumsi individual pemerintah yang berkaitan dengan pemberian subsidi dan berbagai bentuk bantuan kepada masyarakat. Menurut dia, peningkatan tersebut memperlihatkan besarnya dukungan pemerintah dalam menjaga konsumsi kelompok berpendapatan rendah.

"Pemerintah secara berkala terus mengeluarkan stimulus fiskal untuk mendorong daya beli sebenarnya," ujarnya.

Namun, Annisa mengingatkan stimulus pemerintah belum sepenuhnya menjawab persoalan daya beli seluruh kelompok masyarakat. Ia menyoroti kondisi kelas menengah yang terus menghadapi tekanan akibat kenaikan harga kebutuhan pokok dan berbagai beban pajak.

Menurut dia, kelompok berpendapatan rendah relatif memperoleh bantalan sosial melalui bantuan pangan maupun stimulus fiskal. Sementara itu, masyarakat kelas menengah menghadapi tekanan pengeluaran yang semakin besar, sedangkan kelompok berpendapatan tinggi relatif lebih mampu mempertahankan konsumsinya. "Yang terganggu paling banyak adalah kelas menengah ini," kata Annisa.

Ia juga mencermati kenaikan harga berbagai kebutuhan sehari-hari, mulai dari bahan pangan hingga perlengkapan rumah tangga. Kondisi tersebut berpotensi menggerus kemampuan konsumsi masyarakat meskipun pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan masih terjaga.

Indef mendorong pemerintah memperbaiki ketepatan sasaran stimulus fiskal sekaligus memperluas perhatian terhadap kelompok kelas menengah. Belanja negara juga perlu diarahkan pada sektor produktif agar pertumbuhan ekonomi tidak terus bergantung pada stimulus konsumsi, tetapi mampu memperkuat pendapatan dan daya beli masyarakat secara berkelanjutan.

Berita Lainnya

Rekomendasi