Kamis 05 Nov 2026 15:00 WIB

TEI 2026 Targetkan Transaksi 17,5 Miliar Dolar AS, BPDP Perkuat Hilirisasi Sawit

TEI turut mendorong penguatan ekspor, energi hijau, dan ketahanan pangan Indonesia.

Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 resmi dibuka pada Rabu (14/10/2026) di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, Banten, dan berlangsung hingga 18 Oktober 2026.
Foto: Badan Pengelola Dana Perkebunan
Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 resmi dibuka pada Rabu (14/10/2026) di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, Banten, dan berlangsung hingga 18 Oktober 2026.

JAKARTA -- Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 resmi dibuka pada Rabu (14/10/2026) di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, Banten, dan berlangsung hingga 18 Oktober 2026. Dengan mengusung posisi Indonesia sebagai pusat sourcing global, TEI 2026 menghadirkan 1.873 perusahaan peserta serta menargetkan transaksi sebesar 17,5 miliar dolar AS.

Pada opening ceremony, Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan TEI merupakan ajang strategis untuk memperluas akses pasar, menjalin kemitraan dagang, dan menarik kerja sama investasi. Kehadiran buyer dari 134 negara menunjukkan tingginya antusiasme dunia terhadap produk unggulan Indonesia, sekaligus menegaskan peran TEI sebagai ruang diplomasi ekonomi global bagi Indonesia.

Baca Juga

Sambutan Presiden Prabowo Subianto disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia. Pemerintah menekankan pentingnya perdagangan luar negeri sebagai penggerak hilirisasi industri, penciptaan lapangan kerja, penguatan ketahanan ekonomi nasional, hingga pengembangan ekonomi daerah di Indonesia.

TEI 2026 juga menjadi panggung bagi agenda ketahanan energi dan ketahanan pangan Indonesia. Komoditas perkebunan, khususnya kelapa sawit, memegang peran strategis karena turunannya mendukung pengembangan biodiesel, mengurangi ketergantungan pada impor solar, serta meningkatkan nilai tambah ekspor nasional.

Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menjadi mitra strategis dalam agenda tersebut. BPDP mengelola pungutan ekspor kelapa sawit untuk mendanai Peremajaan Sawit Rakyat, pengembangan biodiesel, riset dan inovasi, penguatan sumber daya manusia (SDM), pemberdayaan UMKM, serta memperkuat hilirisasi dan daya saing industri sawit nasional.

Komoditas perkebunan, khususnya kelapa sawit, menjadi penghubung penting antara ekspor, energi, dan kesejahteraan petani. Nilai ekspor sawit Indonesia menjadikannya salah satu penyumbang devisa terbesar, sementara sebagian besar ekspor kini berupa produk hilir, seperti CPO pangan, oleokimia, dan biodiesel.

Kehadiran produk perkebunan dan turunannya di TEI memberi kesempatan Indonesia menunjukkan sektor ini telah bergerak dari ekspor bahan mentah menuju industri bernilai tambah tinggi.

Berita Lainnya

Rekomendasi