Jumat 30 Oct 2026 08:30 WIB

Jaringan Toko Kelontong Perluas Pasar Produk UMKM

Jaringan ritel lokal memperpendek jarak produk UMKM ke konsumen.

Toko kelontong (ilustrasi).
Foto: Muhammad Noor Alfian
Toko kelontong (ilustrasi).

 

JAKARTA – Jaringan toko kelontong mulai memainkan peran lebih besar sebagai jalur distribusi produk UMKM. Melalui jaringan ritel yang dekat dengan permukiman, produk lokal memiliki akses lebih luas untuk menjangkau konsumen tanpa bergantung sepenuhnya pada kanal penjualan modern.

Baca Juga

Potensi tersebut terlihat dari program Pojok Lokal yang dijalankan PT SRC Indonesia Sembilan (SRCIS). Berdasarkan riset KG Media 2026, omzet produk UMKM yang dipasarkan melalui program itu mencapai Rp12,9 triliun pada 2026 atau meningkat 128 persen dibandingkan 2023.

Direktur SRCIS Romulus Sutanto mengatakan, toko kelontong memiliki peluang memberikan dampak lebih luas ketika terhubung dengan pelaku UMKM di sekitarnya. Menurut dia, jaringan toko dapat menjadi pintu masuk bagi produk lokal untuk menjangkau konsumen yang lebih besar.

“Melalui Pojok Lokal, kami ingin mempertemukan potensi produk lokal dengan jaringan toko yang dekat dengan masyarakat, sehingga peluang pertumbuhan dapat dirasakan oleh pemilik toko maupun pelaku UMKM,” ujar Romulus dalam siaran pers, Jumay (30/10/2026).

Melalui Pojok Lokal, sebagian area toko digunakan untuk memasarkan produk UMKM. Model tersebut memberi tambahan pilihan produk bagi konsumen sekaligus membuka ruang penjualan bagi pelaku usaha lokal.

SRC juga mengembangkan Paguyuban SRC sebagai wadah bagi pemilik toko untuk berbagi pengalaman, memperluas jaringan, dan mengembangkan usaha. Berdasarkan riset KG Media 2026, sekitar 96 persen Toko SRC aktif mengikuti kegiatan paguyuban dan 86 persen pemilik toko menilai komunitas tersebut membantu memperluas jaringan bisnis serta memberi ide usaha.

Romulus mengatakan, interaksi antarpemilik toko dapat menjadi ruang bertukar pengalaman dan praktik usaha. Jaringan komunitas juga membuka peluang kolaborasi di tingkat lokal.

“Pertumbuhan usaha tidak harus dijalani sendiri. Melalui Paguyuban, pemilik toko dapat belajar dari pengalaman satu sama lain, membangun relasi, dan menemukan peluang baru. Kami ingin komunitas ini menjadi ruang yang membantu para pemilik toko berkembang sekaligus memperkuat hubungan dengan lingkungan sekitarnya,” katanya.

Manfaat jaringan tersebut dirasakan Ana, pemilik Toko SRC Cemara Tujuh sekaligus Ketua Paguyuban SRC di Malang. Dia memulai usaha tanpa latar belakang bisnis dan menggunakan komunitas sebagai ruang belajar bersama pemilik toko lainnya.

“Bagi saya, keberhasilan bukan hanya ketika toko kita berkembang, tetapi juga saat bisa membantu orang lain ikut maju,” ujar Ana.

SRC mulai dikembangkan pada 2008 dengan 57 toko di Medan. Saat ini, jaringan tersebut telah mencakup lebih dari 250 ribu toko di 38 provinsi serta lebih dari 6.300 Mitra SRC.

Bertambahnya jaringan toko kelontong membuka ruang distribusi yang lebih luas bagi produk UMKM. Selain memperkuat penjualan di tingkat lokal, jaringan tersebut dapat membantu produk usaha kecil menjangkau konsumen di luar pasar tradisional mereka.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi