JAKARTA — Isu penggabungan PT Bank DBS Indonesia dengan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) ramai beredar di media sosial. Kabar tersebut menyebut DBS Indonesia akan melebur ke BCA, dengan BCA sebagai entitas yang bertahan. Namun, DBS menegaskan kabar tersebut tidak benar.
“Isu tersebut tidak benar adanya,” kata Head of Group Marketing & Communications Bank DBS Indonesia Mona Monika kepada Republika, Kamis (29/10/2026).
Dikutip dari The Straits Times, kabar tersebut juga menyebut pemegang saham DBS Indonesia akan menerima saham baru BCA sebagai kompensasi. Kabar itu turut dikaitkan dengan lonjakan saham BCA sekitar 7 persen pada perdagangan Rabu (28/10/2026).
Namun, pergerakan saham BCA berbalik pada perdagangan Kamis. Berdasarkan data pukul 11.59 WIB, saham berkode BBCA tersebut turun 4,27 persen atau 225 poin ke level Rp 5.050 per saham, dari penutupan sebelumnya Rp 5.275.
Meski pergerakan saham terjadi di tengah bantahan DBS, belum dapat dipastikan apakah kedua hal tersebut berkaitan langsung.
DBS Indonesia merupakan anak usaha DBS Group yang berbasis di Singapura. Bank tersebut menyediakan layanan perbankan bagi nasabah korporasi, usaha kecil dan menengah (UKM), konsumen, serta pengelolaan kekayaan di Indonesia.
Sementara itu, BCA merupakan bank swasta terbesar di Indonesia berdasarkan kapitalisasi pasar, dengan keluarga Hartono sebagai pemegang saham pengendali.
The Straits Times juga mencatat saham BCA termasuk yang dinilai menarik oleh pelaku pasar ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok pada awal 2026. Saat itu, penyedia indeks global MSCI memperingatkan potensi penurunan status Indonesia dari pasar negara berkembang.