Senin 26 Oct 2026 18:04 WIB

Hilirisasi Sawit Perluas Peluang Usaha UMKM

Produk olahan membuka pasar baru bagi UMKM.

Kegiatan Pekan Jurnalis dan UMKM Sawit 2026 di Malang membahas peluang pengembangan produk hilirisasi CPO bagi pelaku UMKM.
Foto: Istimewa
Kegiatan Pekan Jurnalis dan UMKM Sawit 2026 di Malang membahas peluang pengembangan produk hilirisasi CPO bagi pelaku UMKM.

JAKARTA -- Hilirisasi kelapa sawit membuka peluang bagi UMKM untuk mengembangkan produk bernilai tambah, mulai dari makanan, kerajinan, hingga produk perawatan tubuh. Potensi tersebut cukup luas karena terdapat sekitar 200 jenis produk turunan sawit yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku utama maupun pendukung.

Peluang tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Pekan Jurnalis dan UMKM Sawit 2026 yang digelar di Malang, Jumat (23/10/2026). Kegiatan yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) itu mempertemukan pelaku UMKM dan media untuk membahas pengembangan produk berbasis sawit.

Baca Juga

Wali Kota Malang Wahyu Hidayat mengatakan, komoditas sawit memiliki kaitan dengan pengembangan ekonomi lokal, termasuk melalui UMKM. Menurut dia, pelaku usaha perlu terus berinovasi dan memperluas pasar agar produk turunannya memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

“Kegiatan ini menjadi ruang untuk memperkuat komunikasi, memperluas wawasan, dan membangun pemahaman masyarakat mengenai industri kelapa sawit,” ujar Wahyu dalam sambutan yang dibacakan Kepala Bidang Usaha Mikro Kecil dan Menengah Diskopindag Kota Malang Farid Suaidi, berdasarkan siaran pers, Senin (26/10/2026).

Ketua Umum Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (APOLIN) Markus Susanto mengatakan, banyak produk UMKM memanfaatkan bahan oleokimia turunan sawit seperti fatty acid, soap noodle, dan gliserin. Bahan tersebut digunakan antara lain untuk sabun, kosmetik, sampo, deterjen, dan produk perawatan tubuh.

“Saat ini, produk oleokimia hampir 70 persen memenuhi pangsa pasar ekspor dan 30 persen dipakai untuk kebutuhan dalam negeri. Kontribusinya bagi devisa ekspor mencapai 5 miliar sampai 6 miliar dolar per tahun,” jelas Markus.

Guru Besar Departemen Teknologi Industri Pertanian Susinggih Wijana menambahkan, produk samping dan limbah sawit juga dapat dimanfaatkan UMKM. Pengolahan kembali bahan tersebut dapat membuka peluang usaha sekaligus mendukung ekonomi sirkular.

“Sebagai contoh, UMKM dapat memanfaatkan limbah sawit untuk bahan baku pakan ternak mulai dari produksi sampai pendistribusian. Selain itu, pelaku UKM dapat menghasilkan produk sabun skala produksi kecil sampai menengah dengan bahan baku dari turunan sawit,” jelasnya.

Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP Helmi Muhansyah mengatakan, sawit berkontribusi sekitar 9 persen terhadap total ekspor nonmigas nasional. Menurut dia, pengembangan produk hilirisasi CPO dapat membuka ruang lebih besar bagi pelaku usaha kecil untuk masuk ke rantai nilai industri.

Peluang tersebut juga terlihat dari pengembangan produk UMKM pangan di Malang. Dalam rangkaian kegiatan, peserta mengunjungi UKM Clemat Clemut yang memproduksi kue sus kering dengan berbagai varian rasa.

Pemilik UKM Clemat Clemut Rully Heri Siswoyo mengatakan, kapasitas produksi usahanya mencapai sekitar 2 ton per bulan. Produk dipasarkan ke berbagai wilayah Indonesia, sementara pasar Papua masih dalam tahap penjajakan.

“Clemat Clemut hadir dengan berbagai rasa mulai dari coklat, keju, dan apel. Selain itu, ada juga soes sayur yang baru saja dirilis dengan target market ekspor dan kebutuhan diet. Total produksi kami mencapai 2 ton per bulan untuk keseluruhan produk. Produk penjual terpopuler adalah melting soes. Pemasaran sudah se-Indonesia kecuali Papua yang sedang dijajaki penjualannya,” ujar Rully.

Hilirisasi CPO dapat menjadi salah satu jalan bagi UMKM untuk memperoleh nilai tambah lebih besar dari komoditas sawit. Tantangannya terletak pada kemampuan mengolah bahan, menjaga kualitas, membaca pasar, serta memperluas akses pemasaran.

Berita Lainnya

Rekomendasi