Jumat 23 Oct 2026 17:56 WIB

Rusia, Iran hingga Ukraina Dukung Jakarta Vision, Indonesia Dorong Resolusi Ekonomi Kreatif PBB

Perjuangkan resolusi global demi perkuat posisi sektor kreatif nasional.

Indonesia mendorong penguatan ekonomi kreatif dalam agenda pembangunan global melalui Jakarta Vision on Creative Economy.
Foto: dok Ekraf
Indonesia mendorong penguatan ekonomi kreatif dalam agenda pembangunan global melalui Jakarta Vision on Creative Economy.

JAKARTA — Indonesia mendorong penguatan ekonomi kreatif dalam agenda pembangunan global melalui Jakarta Vision on Creative Economy. Dokumen yang disepakati dalam pertemuan tingkat menteri World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Jakarta itu akan dibawa ke New York untuk diperjuangkan menjadi resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan, kesepakatan tersebut merupakan langkah Indonesia untuk memperkuat posisi ekonomi kreatif di tingkat internasional.

Baca Juga

“Kita telah mencapai kesepakatan atas sebuah dokumen bersama, yaitu Jakarta Vision on Creative Economy. Dokumen ini akan dibawa ke New York untuk disampaikan dalam forum PBB dan diperjuangkan menjadi Resolusi PBB. Ini adalah kontribusi Indonesia dalam mendorong penguatan ekonomi kreatif di tingkat global,” kata Teuku Riefky di Jakarta, Kamis (22/10).

Kesepakatan tersebut melibatkan perwakilan dari 38 negara, di antaranya Rusia, Ukraina, Malaysia, Yordania, Australia, dan Iran. Indonesia berharap Jakarta Vision dapat menjadi pijakan bagi negara-negara untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif sekaligus membuka peluang lebih luas bagi para kreator.

"Saya merasa bersyukur pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto berhasil menghasilkan sebuah dokumen yang akan disumbangkan untuk perkembangan pembangunan ekonomi kreatif global," katanya.

Teuku Riefky menilai ekonomi kreatif tidak hanya berkaitan dengan seni dan hiburan, tetapi juga memiliki peran dalam penciptaan lapangan kerja, perdagangan internasional, serta penguatan identitas dan karya lokal.

“Desainer, musisi, perajin, dan kreator muda bukan sekadar bagian dari statistik tenaga kerja. Mereka adalah pihak yang mengubah gagasan menjadi produk atau jasa yang memiliki nilai ekonomi,” ujarnya.

Potensi ekonomi kreatif tercermin dari nilai ekspor jasa kreatif dunia yang mencapai 1,7 triliun dolar AS pada 2024, menurut UNCTAD. Di Indonesia, sektor ini menyumbang nilai tambah sekitar Rp 1.611,2 triliun pada tahun yang sama dan menyerap sekitar 26,48 juta tenaga kerja, menurut data BPS.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi