Sabtu 24 Oct 2026 07:00 WIB

Efisiensi dan Kualitas Aset Dongkrak Kinerja Bank Mandiri

Penurunan biaya operasional menopang pertumbuhan profitabilitas.

Rep: M. Nursyamsyi/ Red: Satria K Yudha
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk
Foto: Dok. Bank Mandiri
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk

JAKARTA – Efisiensi operasional dan kualitas kredit yang terjaga menjadi penopang pertumbuhan laba perbankan di tengah meningkatnya biaya dana. Hingga September 2026, laba bersih konsolidasi Bank Mandiri tumbuh 20,7 persen secara tahunan menjadi Rp45,5 triliun, didukung peningkatan pendapatan dan penurunan biaya operasional.

Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita W. Anggraini mengatakan, pertumbuhan bisnis yang solid, efisiensi, serta pengelolaan kualitas aset menjadi faktor utama peningkatan kinerja perusahaan hingga kuartal III 2026. Menurut dia, pertumbuhan kredit dan aktivitas transaksi turut menopang pendapatan perseroan.

Baca Juga

“Pendapatan tumbuh sehat sebesar 7,08 persen secara tahunan menjadi Rp97,3 triliun, didukung oleh pertumbuhan kredit yang solid. Di saat yang sama, pendapatan nonbunga tumbuh lebih tinggi sebesar 13,8 persen menjadi Rp29,4 triliun seiring meningkatnya aktivitas transaksi dan layanan perbankan,” ujar Novita dalam Paparan Publik Kinerja Bank Mandiri Kuartal III 2026 di Jakarta, Jumat (23/10/2026).

Novita menjelaskan, pendapatan bunga bersih Bank Mandiri meningkat 6,20 persen menjadi Rp61,2 triliun. Pertumbuhan tersebut lebih moderat dibandingkan pendapatan nonbunga seiring dinamika peningkatan biaya dana di industri perbankan.

“Dengan sumber pendapatan yang semakin kuat dan terdiversifikasi, total pendapatan Bank Mandiri tetap tumbuh solid sebesar 8,54 persen menjadi Rp90,6 triliun. Pertumbuhan pendapatan tersebut juga diiringi peningkatan efisiensi operasional yang konsisten,” kata Novita.

Dari sisi efisiensi, biaya operasional Bank Mandiri turun 9,03 persen menjadi Rp32,7 triliun. Penurunan biaya tersebut turut menopang pertumbuhan laba bersih konsolidasi sebesar 20,7 persen menjadi Rp45,5 triliun hingga akhir September 2026.

Perbaikan efisiensi juga tercermin dari rasio biaya terhadap pendapatan atau cost-to-income ratio (CIR) yang berada pada level 36,1 persen. Kondisi ini menunjukkan pengelolaan biaya menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga profitabilitas di tengah ekspansi bisnis.

Selain efisiensi, Bank Mandiri mencatat perbaikan kualitas kredit dengan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) sebesar 0,98 persen. Rasio tersebut menunjukkan kualitas aset tetap terjaga seiring pertumbuhan penyaluran kredit.

Novita mengatakan, total aset Bank Mandiri tumbuh 20,1 persen secara tahunan hingga kuartal III 2026. Pertumbuhan tersebut didukung peningkatan kredit sebesar 16,0 persen dan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 17,7 persen.

“Kedua, ekspansi bisnis diiringi dengan kualitas aset yang semakin sehat. Rasio NPL turun menjadi 0,98 persen, CIR (cost-to-income ratio) pada level 36,1 persen,” ujar Novita.

Dari sisi profitabilitas, Bank Mandiri membukukan tingkat pengembalian ekuitas atau return on equity (ROE) sebesar 23,6 persen. Sementara itu, tingkat pengembalian aset atau return on assets (ROA) tercatat sebesar 2,99 persen.

Permodalan perseroan juga tetap terjaga dengan rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) sebesar 18,4 persen. Kondisi tersebut menjadi penopang bagi perusahaan dalam menjalankan ekspansi bisnis sekaligus mengelola risiko.

Novita menilai pertumbuhan bisnis, perbaikan efisiensi, dan kualitas aset yang terjaga mencerminkan hasil transformasi bisnis serta digitalisasi yang dilakukan Bank Mandiri. Perseroan berupaya mempertahankan profitabilitas melalui pengelolaan pendapatan, biaya, dan risiko secara disiplin.

“Dengan pendapatan yang semakin kuat dan terdiversifikasi, efisiensi yang terus meningkat, serta kualitas aset yang terjaga, Bank Mandiri optimistis dapat mempertahankan profitabilitas yang sehat dan berkelanjutan,” ujar Novita.

Berita Lainnya

Rekomendasi