REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia merespons desakan anggota parlemen Malaysia agar Indonesia digugat secara hukum akibat kabut asap lintas batas. Kadin meminta persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak mengganggu hubungan perdagangan maupun investasi antarnegara di kawasan Asia Tenggara.
Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie mengatakan ASEAN memiliki peran penting dalam menjaga komunikasi antarnegara, termasuk ketika menghadapi persoalan lingkungan. Menurutnya, stabilitas dan pertumbuhan ekonomi kawasan selama ini tidak terlepas dari hubungan baik yang terbangun di antara negara-negara anggotanya.
"Kalau mengenai negara tetangga, ya saya melihat inilah gunanya ASEAN. Karena apa? Selama ini ASEAN stabil dan bertumbuh karena komunikasinya lancar," kata Anindya dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (22/10/2026).
Anindya yang juga menjabat Ketua ASEAN Business Advisory Council (ASEAN-BAC) menegaskan hubungan Indonesia dengan Malaysia dan Singapura selama ini berjalan baik. Ia berharap persoalan kabut asap tidak berkembang menjadi polemik berkepanjangan yang berpotensi mengganggu hubungan ekonomi kawasan.
Menurutnya, perdagangan dan investasi antarnegara ASEAN memiliki nilai ekonomi besar. Karena itu, seluruh pihak perlu menjaga hubungan yang sudah terbangun, terutama ketika menghadapi tantangan bersama seperti karhutla.
"Saya kebetulan adalah Ketua ASEAN BAC, ASEAN Business Advisory Council, alhamdulillah, hubungan antara kita dan tetangga, Malaysia dan Singapura sangat baik, dan ini akan kita jaga terus," ujar Anindya.
Ia mengingatkan dampak kebakaran hutan dan lahan tidak hanya dirasakan negara tetangga. Masyarakat Indonesia juga menghadapi konsekuensi langsung dari persoalan tersebut. Kondisi ini, menurutnya, membutuhkan pengertian dan kerja sama seluruh pihak.
Anindya menilai karakteristik lahan gambut di Indonesia turut menjadi tantangan dalam penanganan karhutla. Persoalan tersebut juga dipengaruhi fenomena iklim seperti El Nino dan La Nina yang dapat memperbesar risiko kebakaran.
Ia meminta seluruh pihak tidak terus memperpanjang perdebatan terkait kabut asap. Perhatian sebaiknya diarahkan pada penyelesaian persoalan dan perlindungan masyarakat yang terdampak.
"Dan saya rasa untuk bolak-balik di dalam narasi apalagi di media, saya rasa tidak membawa solusi," kata Anindya.
Kadin menekankan pentingnya menjaga aktivitas perdagangan dan investasi di kawasan ASEAN. Anindya tidak ingin persoalan karhutla yang menjadi tantangan bersama justru merusak hubungan ekonomi antarnegara.
"Karena trading antara ASEAN itu juga besar, investasi antara ASEAN itu besar, jangan ketika kita lagi ada saya bilang, tantangan dan musibah, sebagian ya, ini mesti kita jaga baik-baik," ujarnya.
Di sisi lain, Kadin mendukung langkah pemerintah menegakkan aturan terhadap perusahaan yang terlibat dalam persoalan karhutla. Anindya menilai pendisiplinan diperlukan untuk memberikan kepastian bagi dunia usaha sekaligus mencegah kebakaran terus berulang.
Namun, ia meminta aparat penegak hukum memastikan setiap sanksi didasarkan pada data dan fakta yang jelas. Kepastian hukum dinilai penting agar penindakan berjalan sesuai aturan tanpa menimbulkan ketidakpastian bagi pelaku usaha.
"Saya rasa pendisiplinan itu bagus, ya. Sehingga kita mendapatkan ada kepastian dunia usaha. Dan dalam usaha itu yang paling penting kan certainty," kata Anindya.
Kadin turut mengimbau perusahaan anggotanya, terutama di sektor perkebunan dan kehutanan, meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran. Organisasi tersebut juga membuka peluang kerja sama dengan aparat penegak hukum untuk memperkuat langkah pencegahan.
Anindya berharap Indonesia, Malaysia, dan Singapura dapat melewati persoalan kabut asap dengan tetap menjaga hubungan baik. Ia menekankan pentingnya memusatkan perhatian pada penanganan karhutla serta kesejahteraan masyarakat di kawasan.