Selasa 20 Oct 2026 16:11 WIB

Akses Modal Amartha Bantu Perempuan Perdesaan Kembangkan Usaha Pangan

Setelah menjadi mitra Amartha, Mariani memperoleh pembiayaan dan pendampingan usaha

Dukungan permodalan dan pendampingan Amartha telah mendukung hampir 99 ribu mitra di perdesaan untuk membuka lapangan kerja baru. Sebanyak 97 persen dari total lapangan kerja baru tersebut diisi oleh perempuan.
Foto: dok Amartha
Dukungan permodalan dan pendampingan Amartha telah mendukung hampir 99 ribu mitra di perdesaan untuk membuka lapangan kerja baru. Sebanyak 97 persen dari total lapangan kerja baru tersebut diisi oleh perempuan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Akses permodalan menjadi salah satu tantangan yang dihadapi perempuan perdesaan dalam mengembangkan usaha di sektor pangan. Padahal, perempuan berperan penting dalam menjaga ketahanan pangan, mulai dari produksi hingga distribusi.

Berdasarkan data Food and Agriculture Organization (FAO) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), perempuan menyumbang sekitar 41 persen tenaga kerja pertanian global. Sementara itu, di Indonesia, sekitar 14,8 juta perempuan bekerja di sektor pertanian hingga Februari 2025, mencakup budidaya tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan.

Founder dan CEO Amartha Financial Andi Taufan mengatakan, pihaknya berupaya memperkuat ekosistem usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di perdesaan melalui akses permodalan, pendampingan, serta perluasan akses pasar. Sepanjang 2025, hampir 30 persen mitra Amartha bergerak di sektor pertanian dan peternakan.

“Melihat potensi yang ada, Amartha konsisten memperkuat ekosistem UMKM melalui akses permodalan, pendampingan, serta memberikan kesempatan untuk memperluas akses pasar bagi para perempuan di perdesaan,” ujar Andi.

Dia menambahkan, dukungan permodalan dan pendampingan Amartha telah mendukung hampir 99 ribu mitra di perdesaan untuk membuka lapangan kerja baru. Sebanyak 97 persen dari total lapangan kerja baru tersebut diisi oleh perempuan.

Salah satu contoh penerima manfaat pembiayaan tersebut adalah Sumarni, petani palawija asal Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Selama lebih dari tujuh tahun, dia menekuni usaha pertanian untuk menopang kebutuhan keluarga.

Sebelum menanam palawija, Sumarni sempat membudidayakan melon. Namun, keterbatasan modal membuatnya kesulitan mengembangkan usaha. Setelah bergabung menjadi mitra Amartha sekitar lima tahun lalu, dia memperoleh pembiayaan yang digunakan untuk melanjutkan usaha tanam palawija.

“Berkat modal dari Amartha, saya bisa lebih leluasa mengembangkan usaha palawija ini. Kebanyakan pembeli tinggal di sekitar rumah, jadi mereka bisa langsung membeli hasil panen. Saya bisa mendapat penghasilan hingga Rp 500 ribu setiap dua hari, terutama saat harga sedang bagus,” kata Sumarni.

Penghasilan dari usaha tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membiayai pendidikan anak. Meski pekerjaan mengolah lahan membutuhkan tenaga, Sumarni berharap usahanya terus berkembang agar dapat memberikan masa depan yang lebih baik bagi keluarganya.

Kisah serupa datang dari Mariani, pembudidaya rumput laut di Kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara. Dia memulai usaha rumput laut empat tahun lalu dengan mengeringkan hasil budidaya di belakang rumah. Pendapatannya sempat tidak menentu karena bergantung pada cuaca, pasang surut, dan kondisi laut.

Setelah menjadi mitra Amartha, Mariani memperoleh pembiayaan dan pendampingan usaha untuk memperluas area budidaya. Perluasan tersebut meningkatkan produksi dan pendapatannya.

“Usaha rumput laut ini membantu saya menyekolahkan anak-anak, bekal masa depan mereka. Pembiayaan dan pendampingan dari Amartha membuat produksi usaha saya bisa terus berkembang dan pendapatan meningkat,” ujar Mariani.

Usaha Mariani juga memberikan manfaat bagi warga sekitar. Dia kini melibatkan sejumlah tetangga, sebagian besar ibu rumah tangga, untuk membantu memanen dan menjemur rumput laut sehingga mereka memperoleh tambahan penghasilan.

Selain melalui pembiayaan produktif, Amartha memperluas dukungan kepada masyarakat perdesaan melalui Amartha Empower, portal penggalangan donasi dan zakat yang dinaungi Amartha.org.

Salah satu inisiatifnya berupa pemulihan ketahanan pangan masyarakat terdampak banjir bandang di Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Program tersebut mencakup pemulihan saluran irigasi yang mengairi lahan pertanian bagi lebih dari 900 kepala keluarga atau hampir 3.000 jiwa, serta pemberian sapi untuk mendukung produksi kompos.

“Dengan pulihnya irigasi, lahan pertanian mulai kembali produktif. Kami berharap upaya ini dapat memulihkan perekonomian sekaligus meningkatkan kepercayaan diri masyarakat untuk bangkit kembali,” kata Andi.

Pemulihan juga diperkuat melalui pelatihan tata kelola organisasi, manajemen keuangan, produksi, dan pemasaran bagi kelompok tani serta UMKM penyintas bencana. Upaya ini diharapkan membantu masyarakat kembali produktif sekaligus menjaga keberlanjutan ekonomi lokal.

Andi mengatakan, pemberdayaan perempuan perdesaan tidak hanya membutuhkan akses permodalan, tetapi juga ekosistem yang mendukung pengembangan usaha secara berkelanjutan. Melalui layanan keuangan digital yang dikembangkan Amartha, pihaknya menyatakan akan terus mendukung perempuan perdesaan agar dapat mengembangkan usaha dan memberikan dampak bagi lingkungan sekitarnya.

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi