Senin 19 Oct 2026 15:02 WIB

Mirae Asset Nilai Usulan MSCI Berisiko Tekan Pasar Obligasi

Perubahan klasifikasi pasar berpotensi dorong pelarian modal asing.

Warga mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (5/6/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot 245 poin atau 4,20 persen ke level 5.595, hal tersebut memperpanjang tren pelemahan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Foto: Republika/Thoudy Badai
Warga mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (5/6/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot 245 poin atau 4,20 persen ke level 5.595, hal tersebut memperpanjang tren pelemahan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai usulan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International berpotensi menekan pasar obligasi melalui perubahan sentimen dan arus modal asing. Kebijakan evaluasi global ini memicu perhatian serius dari para pelaku industri keuangan domestik.

Analis fixed income Mirae Asset Sekuritas Indonesia Jessica Tasijawa dalam keterangannya di Jakarta, Senin (19/10/2026), mengatakan tekanan di pasar saham dapat meluas ke pasar surat berharga negara apabila investor global mengurangi eksposur terhadap aset keuangan Indonesia. Kondisi ini menuntut kewaspadaan tinggi dari para pemangku kepentingan.

Baca Juga

Perubahan sentimen tersebut juga berpotensi menekan nilai tukar rupiah. Investor asing yang melepas aset domestik dapat mengonversi dana hasil penjualan ke valuta asing sehingga menambah tekanan terhadap rupiah.

Tekanan terhadap rupiah selanjutnya dapat membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter Bank Indonesia. Kondisi ini berpotensi menahan penurunan imbal hasil surat berharga negara meskipun pasar global membaik.

Jessica mencatat imbal hasil surat berharga negara tenor 10 tahun sempat mencapai 7,33 persen pada pembukaan perdagangan. Ia menilai kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah di tengah penurunan imbal hasil US Treasury menunjukkan adanya tekanan tambahan dari faktor domestik.

“Kenaikan yield SBN tenor 10 tahun ke 7,24 persen ketika yield US Treasury turun sebelumnya juga mengindikasikan adanya tekanan domestik tambahan. Salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah risiko nilai tukar. Jika sentimen MSCI memburuk dan mendorong investor mengurangi kepemilikan aset domestik, konversi dana ke valuta asing dapat menambah tekanan terhadap rupiah,” ujar Jessica.

MSCI pada 15 Oktober 2026 memulai konsultasi mengenai usulan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Langkah strategis ini menjadi perbincangan hangat di kalangan ekonom.

Usulan tersebut muncul di tengah kekhawatiran terhadap transparansi kepemilikan saham, kualitas free float, serta dugaan aktivitas perdagangan terkoordinasi. Aspek tata kelola ini menjadi sorotan utama lembaga indeks global tersebut.

Keputusan akhir dijadwalkan paling lambat pada akhir Juni 2027. Para pelaku pasar terus mencermati setiap perkembangan tahapan konsultasi ini.

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto menilai perubahan klasifikasi tersebut dapat membawa konsekuensi jangka panjang bagi pasar modal domestik, termasuk terhadap posisi Indonesia dalam indeks saham global dan akses ke investor institusional internasional. Valuasi pasar domestik dinilai sangat bergantung pada kepastian regulasi.

Jika Indonesia dikeluarkan dari indeks pasar berkembang yang menjadi acuan berbagai produk investasi global, tekanan jual berpotensi muncul dari investor pasif yang mengikuti indeks tersebut. Investor institusional aktif juga dapat menyesuaikan alokasi investasinya.

“Risikonya bukan hanya berapa besar dana asing yang berpotensi keluar. Dalam jangka lebih panjang, perubahan klasifikasi ini dapat mempersempit basis investor institusional, mengurangi likuiditas pasar, dan meningkatkan premi risiko yang diminta investor untuk berinvestasi di saham Indonesia. Dengan kata lain, dampaknya bisa lebih luas daripada tekanan jual yang kita lihat saat ini,” ujar Rully.

 

 

 

sumber : ANTARA
Berita Lainnya

Rekomendasi