Jumat 16 Oct 2026 21:10 WIB

Respons Pengumuman MSCI, Wamenko Dradjad: Mereka tidak Selalu Benar

Menurut Drajad tidak semua yang dilakukan MSCI itu menguntungkan bagi investor.

Rep: M. Nursyamsyi/ Red: Gita Amanda
Wakil Menteri Koordinator bidang Perekonomian Dradjad Wibowo menilai MSCI bukan satu-satunya lembaga yang berhak menggambarkan situasi pasar modal suatu negara. (ilustrasi)
Foto: Antara/Imamatul Silfia
Wakil Menteri Koordinator bidang Perekonomian Dradjad Wibowo menilai MSCI bukan satu-satunya lembaga yang berhak menggambarkan situasi pasar modal suatu negara. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Menteri Koordinator bidang Perekonomian Dradjad Wibowo meminta investor tidak panik menyikapi pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mempertimbangkan reklasifikasi pasar saham Indonesia dari pasar berkembang (emerging) menjadi pasar tersendiri (standalone). Dradjad menilai MSCI bukan satu-satunya lembaga yang berhak menggambarkan situasi pasar modal suatu negara. 

"MSCI itu punya reputasi tinggi, iya, kita juga perlu memperhatikan apa yang mereka sampaikan, tapi satu yang ingin saya sampaikan, mereka tidak selalu benar," ujar Dradjad di kantor Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Jakarta, Jumat (16/10/2026).

Dradjad mencontohkan perusahaan multinasional asal Jerman yang mengelola pasar keuangan dan bursa efek, serta menyediakan infrastruktur perdagangan saham, komoditas, dan derivatif, Deutsche Börse Group. Dradjad menyampaikan kondisi saham-saham rekomendasi MSCI justru negatif saat Deutscher Aktienindex (DAX) atau indeks pasar saham utama Jerman tengah meningkat. 

"Artinya tidak semua yang dilakukan MSCI itu menguntungkan bagi investor. (Itu) karena investor di Jermannya juga berani melakukan hitung-hitungan sendiri melihat potensi yang sebenarnya dari saham-saham yang ada di bursa (efek) Jerman," ucap Dradjad. 

Dalam sejumlah simulasi, sambung Dradjad, return yang diperoleh dari MSCI pun kalah dibandingkan return yang diperoleh dari tempat lain. Dradjad menyebut hal ini akibat dominasi saham-saham Amerika Serikat (AS) hingga 70 persen dalam MSCI. 

"Kemudian 30 persen didominasi oleh saham teknologi. Jadi ada terlalu, bobot Amerika terlalu besar di situ," lanjut Dradjad. 

Dradjad berharap sikap kritis terhadap MSCI juga dapat dilakukan investor di Indonesia. Dradjad mengatakan fundamental ekonomi Indonesia berada dalam tren yang positif dengan tidak adanya pelemahan daya beli masyarakat.

Dradjad memperkirakan pendapatan emiten-emiten consumer akan naik hampir enam persen pada kuartal III 2026. Hal ini menjadi indikator peningkatan konsumsi dalam negeri.  

"Betul, apa yang dilakukan MSCI ini kita memang harus melakukan reformasi di pasar modal kita, harus kita perbaiki. Tapi tolong teman-teman investor hitung sendiri. Anda lebih tahu mengenai pasar modal kita," sambung Dradjad. 

Dradjad menilai sikap tersebut akan menjaga iklim pasar modal Indonesia menjadi lebih kondusif. Dradjad mengatakan hal ini juga dapat menghindarkan kepanikan massal saat adanya pengumuman dari lembaga pemeringkatan. 

"Kalau kita sudah bisa melakukan hitungan sendiri. InsyaAllah kita nggak akan gampang panik ketika ada pengumuman-pengumuman seperti ini. Apa yang terjadi sekarang ini karena investor domestik terlalu gampang panik karena mungkin belum PD (percaya diri) untuk berhitung sendiri," kata Dradjad. 

Berita Lainnya

Rekomendasi