REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Pengelolaan karbon tanah dinilai semakin penting dalam menjaga produktivitas pertanian, ketahanan pangan, dan mitigasi perubahan iklim. Isu ini mengemuka dalam The 1st International Conference on Soil Carbon and Agriculture Futures (SCAF 2026) yang mempertemukan akademisi, peneliti, pemerintah, dunia usaha, dan mitra internasional di Bogor pada 12–13 Oktober 2026.
Konferensi yang diselenggarakan Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan Fakultas Pertanian IPB University bersama Himpunan Alumni Tanah IPB (HATI) itu diikuti lebih dari 200 peserta secara luring dan daring. Sebanyak 47 presenter ilmiah dari berbagai institusi turut memaparkan riset terkait karbon tanah, ketahanan pangan, dan pertanian berkelanjutan.
Rektor IPB University Alim Setiawan Slamet mengatakan, masa depan pertanian tidak hanya ditentukan oleh peningkatan hasil produksi. Kesehatan tanah, ketersediaan air, dan efisiensi penggunaan sumber daya juga menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan sektor pertanian.
"Masa depan pertanian tidak hanya bergantung pada hasil produksi, tetapi juga pada kesehatan tanah, ketersediaan air, dan efisiensi sumber daya,” kata Alim.
Ia menilai integrasi ilmu pengetahuan, teknologi, dan kolaborasi internasional diperlukan untuk menghasilkan inovasi yang dapat menjawab tantangan ketahanan pangan. Kerja sama lintas negara juga dinilai penting agar hasil penelitian dapat lebih cepat diterapkan dalam praktik pertanian.
Salah satu agenda konferensi menghadirkan Direktur Pangan dan Pertanian Kementerian PPN/Bappenas Jarot Indarto yang mewakili Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas. Sesi tersebut membahas pentingnya memasukkan pengelolaan karbon tanah dan sumber daya lahan ke dalam kebijakan pembangunan pertanian, ketahanan pangan, dan pembangunan rendah karbon.
Pengelolaan karbon tanah menjadi perhatian karena berkaitan dengan kesuburan tanah, produktivitas pertanian, kemampuan tanah menyimpan air, serta mitigasi perubahan iklim. SCAF 2026 juga menyoroti pentingnya membawa hasil penelitian keluar dari ruang akademik agar dapat diterjemahkan menjadi teknologi, kebijakan, dan praktik pengelolaan lahan yang bermanfaat bagi petani.
Konferensi turut menghadirkan ilmuwan dari sejumlah negara. Mereka antara lain Hitoshi Shinjo dari Kyoto University, Jepang; Puji Lestari dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN); Byeong-seon Kim dari Gyeongsang National University, Korea Selatan; serta Lyu Han dari Tokyo University of Agriculture and Technology, Jepang.
Memasuki hari kedua, Selasa (13/10/2026), pembahasan mengerucut pada hubungan antara karbon tanah dan keberlanjutan industri kelapa sawit melalui Special Session: Soil Carbon & Sustainable Oil Palm. Agenda tersebut dirangkaikan dengan Rapat Kerja Nasional Himpunan Ilmu Tanah Indonesia (HITI).
Ketua Himpunan Alumni Tanah IPB Agustinus Toko Susetio mengatakan, peningkatan produktivitas kelapa sawit perlu berjalan beriringan dengan kesehatan tanah dan kelestarian lingkungan. Ia juga menilai sektor pertanian memiliki posisi strategis dalam menopang ketahanan pangan sekaligus ketahanan energi melalui pengembangan bioenergi.
“Tidak akan ada pertanian yang benar-benar berkelanjutan tanpa tanah yang sehat,” tegas Agustinus.
Menurutnya, tanah bukan sekadar media tumbuh tanaman. Tanah juga merupakan ekosistem hidup yang menopang produktivitas pertanian, menyimpan air dan karbon, serta berperan dalam mitigasi perubahan iklim.
Sesi khusus kelapa sawit berkelanjutan menjadi ruang dialog antara akademisi, pemerintah, organisasi profesi, dan pelaku usaha. Pembahasan mencakup produktivitas pertanian, pengelolaan karbon tanah, dan keberlanjutan lingkungan.
Rangkaian hari kedua juga menghadirkan Rektor Universitas Nusa Bangsa Budi Mulyanto sebagai invited speaker. Sejumlah akademisi, peneliti, pejabat lembaga, organisasi profesi, mitra industri, serta peserta dari dalam dan luar negeri turut mengikuti kegiatan tersebut.
Pada tingkat internasional, konferensi melibatkan mitra antara lain Kyoto University, Tokyo University of Agriculture and Technology, Gyeongsang National University, Swedish University of Agricultural Sciences, serta Leading University Project for International Cooperation. Sementara di tingkat nasional, kegiatan turut melibatkan Ikatan Alumni Fakultas Pertanian IPB, Himpunan Alumni IPB, dan Himpunan Ilmu Tanah Indonesia.
Kolaborasi tersebut diarahkan pada pengembangan inovasi pengelolaan tanah, pemulihan lahan terdegradasi, peningkatan produktivitas pertanian, dan penguatan ketahanan pangan. Pembahasan selama konferensi juga menegaskan bahwa peningkatan produksi perlu berjalan bersamaan dengan upaya menjaga kesehatan tanah dan keberlanjutan sumber daya alam.