REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR — Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali menghitung dampak akibat kendala pasokan bahan bakar minyak (BBM) di Pulau Dewata terhadap ekonomi daerah yang diperkirakan masih dalam skala terbatas. Kajian ini dilakukan untuk memastikan proyeksi pertumbuhan ekonomi tetap akurat di tengah situasi yang sedang berjalan.
“Mengingat proses normalisasi pasokan dan distribusi BBM sedang berlangsung, dampak terhadap perekonomian daerah diprakirakan tetap terbatas dan bersifat sementara,” kata Kepala Kantor Perwakilan BI Bali Achris Sarwani di Denpasar, Rabu (14/10/2025). Ia memastikan bahwa bank sentral terus memantau perkembangan situasi di lapangan secara berkala.
Ia menjelaskan keterbatasan pasokan BBM dalam beberapa hari terakhir terutama berdampak pada kelancaran mobilitas masyarakat dan wisatawan serta menimbulkan keterlambatan sebagian aktivitas operasional usaha. Gangguan tersebut dirasakan langsung oleh berbagai sektor jasa di wilayah setempat.
Adapun dampak yang dilaporkan di antaranya keterlambatan layanan transportasi wisatawan, penjemputan dan pengantaran tamu hotel, serta pengiriman kebutuhan operasional seperti bahan makanan, minuman, dan jasa binatu. Kendati demikian, sektor-sektor tersebut tetap berupaya beroperasi secara normal.
Meski begitu, ia mencermati aktivitas usaha secara umum masih berjalan dan belum terdapat indikasi gangguan yang signifikan terhadap keseluruhan kegiatan ekonomi Bali. Kondisi ini menunjukkan ketahanan ekonomi daerah yang masih cukup baik.
Berdasarkan simulasi bank sentral itu, apabila keterbatasan BBM berlangsung selama tiga hingga lima hari, dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi Bali diprakirakan mengalami koreksi sekitar 0,014 persen. Angka tersebut diperoleh dari perhitungan model makroekonomi terkini.
Kontraksi pertumbuhan ekonomi diperkirakan menjadi lebih dalam sekitar 0,019 persen apabila kendala itu berlangsung hingga tujuh hari. Oleh karena itu, percepatan pemulihan distribusi menjadi kunci utama.
Sementara itu, dari sisi inflasi, hasil pemantauan BI di sejumlah pasar tradisional dan pelaku usaha menunjukkan pasokan barang kebutuhan masyarakat masih relatif terjaga dan harga komoditas pangan secara umum masih stabil. Stabilitas harga ini membantu meredam tekanan ekonomi yang lebih luas.
“Hingga saat ini belum terdapat indikasi tekanan harga yang meluas akibat keterbatasan BBM mengingat persediaan bahan pangan masih mencukupi,” kata dia. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang menghadapi situasi pasokan energi ini.
Meski begitu, ia menekankan terdapat potensi peningkatan biaya distribusi dan logistik dalam jangka pendek. Kenaikan biaya ini dipicu oleh penyesuaian jalur logistik di lapangan.
Tekanan itu memberi dampak terhadap inflasi Bali, meski diprakirakan relatif terbatas. Pihaknya terus mengawasi gerak harga di tingkat pedagang eceran.