Selasa 13 Oct 2026 22:02 WIB

Hilirisasi Bauksit Pangkas Impor Alumina, Inalum Hemat Devisa Rp 9 Triliun

Hilirisasi bauksit bisa dorong nilai tambah

Rep: Frederikus Dominggus Bata/ Red: Intan Pratiwi
 Dua buah kapal tongkang menampung biji bauksit siap ekspor di Sungai Carang, Tanjungpinang, Kepulauan Riau.
Foto: Antara
Dua buah kapal tongkang menampung biji bauksit siap ekspor di Sungai Carang, Tanjungpinang, Kepulauan Riau.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) menghemat devisa sekitar Rp 7 triliun hingga Rp 9 triliun per tahun setelah tidak lagi mengimpor alumina untuk memenuhi kebutuhan bahan baku produksi aluminium. Penghematan tersebut didukung pengoperasian fasilitas pemurnian bauksit menjadi alumina di dalam negeri sebagai bagian dari hilirisasi mineral Grup MIND ID.

 

Direktur Strategi Korporasi, Pengembangan Usaha, dan Komersial Inalum Arif Haendra mengatakan, ketersediaan alumina domestik mengurangi ketergantungan perusahaan terhadap pasokan bahan baku dari luar negeri. Inalum kini memperoleh alumina dari fasilitas pemurnian yang dikembangkan dalam ekosistem industri bauksit–alumina–aluminium nasional.

 

“Sekarang dengan memiliki sendiri alumina maka kita tidak perlu impor. Itu sudah menghemat devisa kurang lebih Rp7 triliun sampai Rp9 triliun gitu ya. Dengan Inalum sudah tidak mengimpor alumina,” kata Arif dalam BIG Downstream Insight 2026, dikutip Selasa (13/10/2026).

 

Penguatan pasokan bahan baku tersebut ditopang pengembangan ekosistem hilirisasi bauksit–alumina–aluminium oleh Inalum bersama PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) di Mempawah, Kalimantan Barat. Kawasan ini mencakup enam proyek, terdiri atas lima proyek di Grup MIND ID dan satu proyek milik Pelindo.

 

Pada sisi hulu, pasokan bijih bauksit berasal dari satu izin usaha pertambangan (IUP) milik ANTAM dan enam IUP milik anak perusahaan ANTAM. Bijih tersebut kemudian diolah melalui fasilitas Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) menjadi alumina untuk memenuhi kebutuhan industri aluminium.

 

SGAR fase I saat ini telah berproduksi dengan kapasitas mencapai 1 juta ton alumina per tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 550 ribu ton dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan Inalum berdasarkan perjanjian jangka panjang, sedangkan 450 ribu ton lainnya ditujukan untuk ekspor.

 

Kapasitas produksi tersebut memungkinkan pasokan alumina untuk kebutuhan domestik berjalan beriringan dengan penjualan ke pasar internasional. Kehadiran fasilitas pemurnian di dalam negeri juga memperkuat keterhubungan antara penambangan bauksit dan pengolahan aluminium, sehingga bahan baku mineral dapat dimanfaatkan lebih lanjut di dalam negeri.

 

Inalum bersama ANTAM selanjutnya menyiapkan pengembangan SGAR fase II untuk memperkuat ekosistem hilirisasi tersebut. Arif menyampaikan, studi kelayakan yang memenuhi persyaratan perbankan atau bankable feasibility study (BFS) untuk proyek itu telah selesai dan akan segera memasuki tahap keputusan investasi akhir atau final investment decision (FID).

 

Pengembangan rantai industri bauksit–alumina–aluminium diharapkan memperkuat kemandirian pasokan bahan baku sekaligus meningkatkan daya saing industri pengolahan nasional. Ketersediaan alumina domestik juga menjadi modal bagi pengembangan berbagai sektor pengguna aluminium, mulai dari manufaktur kendaraan listrik, konstruksi, transportasi, hingga kelistrikan.

Berita Lainnya

Rekomendasi