REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Transisi energi berpotensi menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi Indonesia melalui pengembangan industri kendaraan listrik, baterai, hingga pengolahan mineral. Namun, peluang tersebut membutuhkan investasi jangka panjang, penguasaan teknologi, dan penguatan industri dalam negeri agar Indonesia dapat keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap).
Managing Director Development Investment PT Danantara Development Management Fund (DDMF) M. Rachmat Kaimuddin mengatakan, transisi energi tidak hanya berkaitan dengan pengurangan emisi karbon. Perubahan sistem energi juga dapat dimanfaatkan untuk mengurangi ketergantungan impor, memperkuat ketahanan energi, dan meningkatkan nilai tambah produk industri nasional.
“Transisi energi bagi Indonesia bukanlah tujuan akhir, melainkan peluang untuk mencapai kemakmuran dan memperkuat ketahanan energi nasional. Melalui transisi energi, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor, meningkatkan nilai ekspor melalui hilirisasi, menarik investasi, serta menciptakan industri dan lapangan kerja baru yang memberikan nilai tambah bagi perekonomian,” ujar Rachmat dalam keterangannya, Ahad (11/10/2026).
Menurut Rachmat, Indonesia memiliki sumber daya alam dan pasar domestik yang besar untuk mengembangkan industri energi bersih. Namun, potensi tersebut perlu didukung kapasitas produksi, kemampuan teknologi, dan rantai pasok domestik agar manfaat ekonominya tidak hanya berasal dari penjualan bahan mentah.
Peluang pengembangan industri tersebut terlihat dari peningkatan investasi hilirisasi. Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, realisasi investasi hilirisasi sepanjang 2025 mencapai Rp584,1 triliun atau tumbuh 43,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Nilai tersebut setara 30,2 persen dari total realisasi investasi nasional yang mencapai Rp1.931,2 triliun pada 2025. Investasi hilirisasi mencakup peluang pengembangan industri pengolahan mineral, baterai, kendaraan listrik, serta manufaktur pendukung.
BloombergNEF melalui Indonesia Transition Factbook 2025 memperkirakan transformasi menuju ekonomi dengan emisi nol bersih membuka peluang ekonomi senilai 3,8 triliun dolar AS hingga 2050. Besarnya potensi tersebut menunjukkan kebutuhan investasi dalam pengembangan energi bersih dan industri yang mendukung transisi.
Dari sisi ketahanan energi, elektrifikasi transportasi dinilai dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil impor. Namun, peningkatan penggunaan kendaraan listrik juga membutuhkan kesiapan pembangkit dan jaringan listrik untuk memenuhi permintaan energi.
Pemerintah melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 menargetkan penambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 gigawatt (GW). Sekitar 52,9 GW atau 76 persen dari rencana tersebut berasal dari energi baru dan terbarukan serta sistem penyimpanan energi, dengan peluang investasi diperkirakan mencapai Rp2.133,7 triliun.
Besarnya kebutuhan pembiayaan menjadi tantangan tersendiri dalam pelaksanaan proyek energi dan hilirisasi. Selain ketersediaan modal, proyek perlu memiliki perencanaan dan struktur pembiayaan yang mampu menarik investor serta memberikan kepastian dalam jangka panjang.
DDMF menyiapkan dukungan investasi untuk proyek strategis yang berkaitan dengan ketahanan nasional, infrastruktur esensial, serta hilirisasi dan industrialisasi. Lembaga tersebut juga berperan dalam pengembangan proyek agar memenuhi persyaratan investasi dan dapat menarik partisipasi modal swasta.
“Persoalannya bukan semata-mata ketersediaan modal, melainkan bagaimana menyiapkan proyek yang layak investasi. DDMF akan berperan dalam pengembangan dan penyiapan proyek strategis, sekaligus berpartisipasi melalui penempatan modal. Dengan demikian, kami berharap dapat memberikan keyakinan kepada mitra investasi untuk bersama-sama mendukung pembangunan nasional,” kata Rachmat.
Rachmat sebelumnya menyampaikan pandangan tersebut dalam sesi Executive Interview: How Does the Energy Transition Help Indonesia Escape the Middle Income Trap? pada BloombergNEF Forum Jakarta 2026, Senin (5/10/2026). Menurut dia, keterkaitan antara transisi energi, hilirisasi, dan investasi perlu diperkuat agar industrialisasi dapat meningkatkan produktivitas serta mendukung target Indonesia menjadi negara berpendapatan tinggi pada 2045.