Sabtu 03 Oct 2026 15:20 WIB

Porsi Asing di SBN Tinggal 13 Persen, Kemenkeu: Lebih Tahan Gejolak Global  

Turunnya porsi asing dapat mengurangi kerentanan pasar keuangan Indonesia.

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Gita Amanda
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung saat acara pengucapan sumpah Hakim Konstitusi dan pelantikan Wakil Menteri Keuangan di Istana Negara, Jakarta, Kamis (5/2/2026). Presiden Prabowo Subianto melantik Juda Agung sebagai Wakil Menteri Keuangan menggantikan Thomas Djiwandono yang terpilih menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI). Selain itu acara pelantikan tersebut digelar bersamaan dengan prosesi pengucapan sumpah Adies Kadir sebagai Hakim Mahkamah Konstitusi (MK), yang menggantikan Arief Hidayat yang memasuki masa pensiun.
Foto: Republika/Prayogi
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung saat acara pengucapan sumpah Hakim Konstitusi dan pelantikan Wakil Menteri Keuangan di Istana Negara, Jakarta, Kamis (5/2/2026). Presiden Prabowo Subianto melantik Juda Agung sebagai Wakil Menteri Keuangan menggantikan Thomas Djiwandono yang terpilih menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI). Selain itu acara pelantikan tersebut digelar bersamaan dengan prosesi pengucapan sumpah Adies Kadir sebagai Hakim Mahkamah Konstitusi (MK), yang menggantikan Arief Hidayat yang memasuki masa pensiun.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Porsi investor asing dalam kepemilikan Surat Berharga Negara (SBN) kini tinggal 13-14 persen, turun dari hampir 40 persen sekitar 10 tahun lalu. Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengatakan kondisi ini membuat pembiayaan pemerintah lebih banyak ditopang investor domestik. 

“Strategi pembiayaan utamanya adalah tetap fokus, sebagian atau dominannya adalah pembiayaan dari dalam negeri yang relatif tidak rentan terhadap (gejolak) global,” kata Juda dalam Media Gathering bertema APBN 2027 Tumbuh Lebih Tinggi Sejahtera Lebih Cepat, Kamis (1/10/2026).

Baca Juga

Data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per 15 September 2026 mencatat kepemilikan asing di SBN sebesar 13,09 persen atau Rp 904,39 triliun. Jumlah itu terdiri atas SUN Rp 885,98 triliun dan SBSN Rp 18,41 triliun.

Juda mengatakan turunnya porsi asing dapat mengurangi kerentanan pasar keuangan Indonesia terhadap perubahan sentimen global, termasuk di pasar uang dan valuta asing. “Ini tentu saja bisa mengurangi kerentanan di pasar uang dan pasar valas kita,” katanya. 

Pemerintah, lanjut Juda, tetap akan menjaga defisit dan pembiayaan dalam batas yang aman. Pengelolaan utang juga dilakukan untuk menjaga imbal hasil SBN tetap menarik tanpa membuat biaya utang terlalu besar. 

“Bagaimana kita tetap menarik, yield kita tetap menarik dan cost-nya tidak terlalu besar dalam pembiayaan melalui utang,” ujarnya.

Berita Lainnya

Rekomendasi