Jumat 02 Oct 2026 14:27 WIB

Wamenkeu: Indonesia Harus Tumbuh 6 Persen agar tak Tua Sebelum Kaya

Pemerintah menargetkan ekonomi Indonesia tumbuh 6 persen.

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Gita Amanda
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung saat acara pengucapan sumpah Hakim Konstitusi dan pelantikan Wakil Menteri Keuangan di Istana Negara, Jakarta, Kamis (5/2/2026). Presiden Prabowo Subianto melantik Juda Agung sebagai Wakil Menteri Keuangan menggantikan Thomas Djiwandono yang terpilih menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI). Selain itu acara pelantikan tersebut digelar bersamaan dengan prosesi pengucapan sumpah Adies Kadir sebagai Hakim Mahkamah Konstitusi (MK), yang menggantikan Arief Hidayat yang memasuki masa pensiun.
Foto: Republika/Prayogi
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung saat acara pengucapan sumpah Hakim Konstitusi dan pelantikan Wakil Menteri Keuangan di Istana Negara, Jakarta, Kamis (5/2/2026). Presiden Prabowo Subianto melantik Juda Agung sebagai Wakil Menteri Keuangan menggantikan Thomas Djiwandono yang terpilih menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI). Selain itu acara pelantikan tersebut digelar bersamaan dengan prosesi pengucapan sumpah Adies Kadir sebagai Hakim Mahkamah Konstitusi (MK), yang menggantikan Arief Hidayat yang memasuki masa pensiun.

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR --Pemerintah menargetkan ekonomi Indonesia tumbuh 6 persen pada 2027 sebelum mencapai 8 persen pada 2029. Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengatakan target tersebut harus dikejar selagi Indonesia masih menikmati bonus demografi.

Menurut Juda, Indonesia saat ini masih memiliki jumlah penduduk usia muda yang besar. Kondisi tersebut menjadi peluang untuk mendorong produktivitas dan pertumbuhan ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja.

Baca Juga

Namun, bonus demografi diperkirakan berakhir dalam 10-15 tahun mendatang. Setelah itu, jumlah penduduk usia lanjut akan semakin besar sehingga kelompok usia produktif harus menanggung beban yang lebih besar. 

“Artinya apa? Kita bisa tua sebelum kaya. Jadi angka 6 persen tahun depan, 8 persen di 2029 ini adalah sebuah visi yang memang harus kita capai di periode yang gak terlalu lama lagi,” kata Juda dalam Media Gathering bertema APBN 2027 Tumbuh Lebih Tinggi Sejahtera Lebih Cepat, Kamis (1/10/2026). 

Juda mengatakan pertumbuhan ekonomi yang bertahan di sekitar 5 persen berisiko membuat Indonesia sulit keluar dari middle income trap atau jebakan pendapatan menengah.

Karena itu, peningkatan produktivitas menjadi kunci. Pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi harus diikuti penciptaan lapangan kerja agar penduduk usia muda dapat masuk ke pasar kerja dan menghasilkan nilai tambah bagi perekonomian.

“Jadi ini memang sebuah tantangan sekaligus visi. Dari sisi fiskal, ruang fiskal harus kita jaga dan tetap prudent. Penerimaan perlu didorong dan belanja lebih berkualitas,” ujarnya.

Untuk mengejar target tersebut, APBN 2027 akan diarahkan pada tiga hal, yakni mendorong pertumbuhan, memberikan perlindungan kepada masyarakat, dan melakukan transformasi ekonomi.

Dari sisi pertumbuhan, pemerintah akan mendorong daya beli masyarakat, investasi, hilirisasi, dan industrialisasi. Sementara perlindungan diarahkan untuk menjaga daya beli masyarakat, khususnya kelompok menengah ke bawah.

“Oleh sebab itu, program perlindungan sosial masih ada. Stabilisasi harga pangan, stabilisasi harga energi. Walaupun mungkin bisa dilakukan upaya-upaya lebih targeting, ataupun lebih tepat sasaran. Dan juga mengendalikan inflasi untuk melindungi daya beli masyarakat,” kata Juda.

Adapun transformasi ekonomi akan dilakukan melalui hilirisasi dan industrialisasi. Juda menilai Indonesia tidak dapat terus bergantung pada ekspor komoditas dalam bentuk mentah.

“Kita harus mendorong hilirisasi, industrialisasi dari perekonomian kita. Oleh sebab itu, penguatan sumber daya manusia, penguatan infrastruktur fisik, dan penguatan reformasi institusi, itu harus kita lakukan di tahun depan,” ujarnya.

Berita Lainnya

Rekomendasi