Jumat 02 Oct 2026 14:30 WIB

Riset Aspal Buton Masuk Hilirisasi, Industri Siapkan Produksi dan Distribusi

Skala produksi menjadi ujian berikutnya bagi teknologi asbuton.

CEO Aspindo Group Bobby Hartawan Wijaya.
Foto: Istimewa
CEO Aspindo Group Bobby Hartawan Wijaya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pemanfaatan aspal Buton (asbuton) membutuhkan teknologi pengolahan yang mampu memisahkan bitumen dari mineral secara efisien agar dapat diterapkan dalam skala industri. Riset teknologi hidrotermal kini memasuki tahap hilirisasi untuk memperbesar pemanfaatan sumber daya aspal dalam negeri.

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengoperasikan Laboratorium Teknologi Aspal Buton Berkelanjutan pada Rabu (30/9). Fasilitas tersebut digunakan untuk penelitian dan pengembangan teknologi pengolahan asbuton, khususnya proses ekstraksi berbasis hidrotermal.

Baca Juga

Teknologi tersebut dikembangkan untuk mengoptimalkan pemisahan bitumen dari mineral asbuton. ITS menyebut tingkat efisiensi ekstraksi yang dihasilkan dapat melampaui 95 persen.

Rektor ITS Bambang Pramujati mengatakan, pengoperasian laboratorium menjadi kelanjutan riset yang dilakukan peneliti ITS dari tahap hulu hingga hilir. Hasil penelitian tersebut diharapkan dapat diterapkan untuk mendukung kebutuhan pembangunan infrastruktur.

“Kepercayaan yang diberikan ini menjadi bukti nyata bahwa rangkaian riset hulu hingga hilir karya peneliti ITS memiliki nilai strategis yang besar bagi percepatan pembangunan nasional,” ujar Bambang dalam keterangan yang diterima pada Jumat (2/10/2026).

Teknologi pengolahan asbuton tersebut dikembangkan dosen Departemen Teknik Kimia ITS Susianto yang meneliti pemisahan asbuton sejak 2006. Dengan pendekatan transport phenomena, penelitian tersebut mengoptimalkan perpindahan massa dan panas dalam proses ekstraksi asbuton.

Tahap berikutnya adalah membawa teknologi tersebut dari laboratorium menuju skala produksi. Aspindo Group menyatakan siap mendukung pengujian lanjutan dan pengembangan produksi, sekaligus menyediakan jaringan distribusi apabila teknologi tersebut memasuki tahap komersialisasi.

CEO Aspindo Group Bobby Hartawan Wijaya mengatakan, kolaborasi perguruan tinggi dan industri dibutuhkan untuk membawa hasil penelitian menuju pemanfaatan dalam skala lebih luas. Menurut dia, tingkat efisiensi ekstraksi menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan asbuton untuk kebutuhan industri.

“Inovasi laboratorium ITS ini merupakan titik balik luar biasa bagi industri aspal nasional. Efisiensi ekstraksi hingga di atas 95 persen adalah terobosan yang kita butuhkan untuk menjadikan asbuton sebagai tuan rumah di negeri sendiri,” kata Bobby.

Selain mendukung pengujian dan pengembangan produksi, Aspindo Group menyiapkan jaringan distribusi untuk mengantisipasi hilirisasi teknologi tersebut. Infrastruktur logistik diperlukan agar produk asbuton dapat menjangkau kebutuhan pembangunan di berbagai wilayah Indonesia.

“Kami telah menyiapkan ekosistem logistik yang matang, mulai dari terminal penyimpanan hingga armada transportasi darat dan laut. Komitmen Aspindo Group adalah memastikan hasil hilirisasi asbuton berteknologi tinggi ini nantinya dapat terdistribusi secara lancar, efisien, dan merata untuk mendukung percepatan pembangunan infrastruktur di seluruh wilayah Indonesia,” ujarnya.

Aspindo Group saat ini memiliki jaringan empat terminal aspal dan sekitar 200 unit truk tanker. Distribusi melalui jalur laut didukung dua kapal tanker aspal khusus, termasuk satu kapal dengan kapasitas angkut lebih dari 150 drum aspal.

Masuknya riset asbuton ke tahap hilirisasi masih membutuhkan pengujian lebih lanjut sebelum teknologi diterapkan secara luas dalam skala produksi. Kesiapan teknologi, kapasitas produksi, dan jaringan distribusi akan menentukan kemampuan asbuton meningkatkan pemanfaatan sumber daya aspal domestik untuk kebutuhan infrastruktur nasional.

Berita Lainnya

Rekomendasi