REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Perencanaan keuangan jangka panjang tidak hanya berkaitan dengan upaya meningkatkan aset, tetapi juga bagaimana seseorang mengatur tujuan finansial, mengelola risiko, dan memastikan kebutuhan di berbagai tahap kehidupan tetap dapat dipenuhi.
Di tengah kebutuhan finansial yang semakin beragam, masyarakat perlu mempertimbangkan strategi pengelolaan keuangan yang disesuaikan dengan kondisi dan tujuan masing-masing. Mulai dari menyiapkan dana pendidikan anak, membeli rumah, mempersiapkan masa pensiun, hingga memastikan kondisi finansial keluarga tetap terjaga.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% secara tahunan pada Triwulan II 2026. Secara kumulatif, ekonomi Indonesia pada Semester I 2026 tumbuh 5,45% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Di sisi lain, Bank Indonesia menilai kondisi sistem keuangan Indonesia tetap kuat dan stabil.
Kondisi tersebut menjadi salah satu latar penting bagi masyarakat untuk tetap memperhatikan perencanaan keuangan dalam jangka panjang. Ada beberapa hal yang dapat diperhatikan ketika menyusun strategi keuangan.
1. Tentukan tujuan finansial
Langkah pertama adalah menentukan tujuan secara jelas. Kebutuhan jangka pendek tentu berbeda dengan tujuan yang baru akan dicapai dalam 10, 20, atau bahkan 30 tahun mendatang.
Tujuan seperti dana darurat, biaya pendidikan, pembelian rumah, dan persiapan pensiun membutuhkan perencanaan dengan jangka waktu berbeda. Dengan menentukan tujuan sejak awal, seseorang dapat memperkirakan kebutuhan dana dan strategi yang sesuai.
2. Sesuaikan strategi dengan jangka waktu
Setiap tujuan memiliki horizon waktu yang berbeda sehingga strategi pengelolaan dana juga tidak dapat disamaratakan.
Dana yang dibutuhkan dalam waktu dekat umumnya perlu mempertimbangkan aspek likuiditas dan stabilitas. Sementara itu, untuk tujuan jangka panjang, seseorang dapat mempertimbangkan instrumen yang memiliki potensi pertumbuhan lebih tinggi dengan memahami risiko yang menyertainya.
3. Kenali profil risiko
Sebelum memilih instrumen investasi, penting untuk memahami kemampuan dan toleransi terhadap risiko. Profil risiko setiap orang dapat berbeda, tergantung pada kondisi keuangan, usia, pendapatan, kebutuhan, serta tujuan investasi.
Pemilihan instrumen sebaiknya tidak hanya didasarkan pada potensi imbal hasil, tetapi juga pada kemampuan seseorang menghadapi kemungkinan penurunan nilai investasi.
4. Pertimbangkan diversifikasi
Diversifikasi merupakan salah satu pendekatan yang dapat digunakan dalam pengelolaan portofolio. Dengan menempatkan dana pada sejumlah instrumen atau aset dengan karakteristik berbeda, risiko tidak terkonsentrasi pada satu jenis investasi saja.
Namun, diversifikasi bukan berarti menghilangkan risiko. Nilai investasi tetap dapat naik maupun turun dan hasilnya bergantung pada kinerja aset yang dipilih.
Dalam pengelolaan investasi jangka panjang, keseimbangan antara potensi hasil, risiko, serta kesesuaian aset dengan kebutuhan menjadi hal yang perlu diperhatikan.
5. Jangan lupakan aspek perlindungan
Perencanaan keuangan juga perlu mempertimbangkan risiko yang dapat mengganggu pencapaian tujuan finansial. Perlindungan jiwa, kesehatan, maupun aset dapat menjadi bagian dari strategi untuk menjaga kondisi keuangan keluarga ketika terjadi risiko yang tidak terduga.
Dengan demikian, pengelolaan keuangan tidak hanya berorientasi pada bagaimana aset bertumbuh, tetapi juga bagaimana aset dan pendapatan dapat tetap mendukung kebutuhan keluarga dalam berbagai kondisi.
6. Evaluasi secara berkala
Kondisi keuangan dan kebutuhan seseorang dapat berubah seiring waktu. Perubahan pendapatan, status keluarga, kebutuhan anak, kondisi ekonomi, hingga mendekatnya usia pensiun dapat memengaruhi strategi yang sebelumnya telah dibuat.
Karena itu, rencana keuangan perlu dievaluasi secara berkala agar tetap relevan dengan tujuan dan kondisi terkini.
Hal tersebut juga tercermin dalam perkembangan industri asuransi jiwa. Berdasarkan data Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), pendapatan premi produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI) atau unit link pada Semester I 2026 mencapai Rp35,73 triliun, tumbuh 10,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, premi bisnis baru PAYDI/unit link tumbuh 34,5% menjadi Rp19,78 triliun.
Di sisi pengelolaan investasi, prinsip kehati-hatian dan diversifikasi menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara potensi hasil investasi, pengelolaan risiko, serta kesesuaian aset dan kewajiban dalam jangka panjang.
Sejumlah perusahaan asuransi jiwa juga mengembangkan produk yang menggabungkan unsur perlindungan dengan pilihan investasi. Salah satunya Great Eastern Life Indonesia melalui GREAT Investlink Protection, produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI) dengan pilihan mata uang Rupiah, USD, dan SGD.
Produk tersebut dipasarkan melalui jalur bancassurance di OCBC dengan skema Premi Tunggal. Perusahaan memperluas pilihan mata uang dengan menghadirkan USD pada Desember 2025 dan SGD pada Mei 2026.
Presiden Direktur Great Eastern Life Indonesia Nina Ong mengatakan, kebutuhan finansial dapat berkembang seiring perjalanan hidup sehingga pengelolaan aset perlu disesuaikan dengan tujuan masing-masing.
“Setelah membangun aset, kebutuhan tidak hanya berfokus pada pertumbuhan aset, tetapi juga bagaimana aset tersebut dapat dikelola secara lebih terencana dan terdiversifikasi sesuai dengan tujuan finansial masing-masing,” ujar Nina.
Ia menambahkan, perencanaan keuangan pada fase produktif dapat mencakup pengembangan aset sekaligus persiapan kebutuhan seperti pendidikan anak dan masa pensiun. Seiring bertambahnya aset, kebutuhan juga dapat berkembang menjadi pengelolaan kekayaan, perencanaan arus kas jangka panjang, hingga persiapan finansial bagi keluarga dan generasi berikutnya.
Dalam memilih produk keuangan maupun instrumen investasi, pemahaman terhadap manfaat, biaya, risiko, karakteristik produk, serta kesesuaiannya dengan tujuan dan profil risiko menjadi bagian penting yang tidak dapat diabaikan.
Untuk produk PAYDI, misalnya, nilai investasi dapat mengalami kenaikan maupun penurunan mengikuti kinerja Dana Investasi yang dipilih. Karena itu, calon nasabah perlu membaca dan memahami informasi produk sebelum mengambil keputusan.
Pada akhirnya, perencanaan keuangan jangka panjang bukan sekadar memilih instrumen untuk mengembangkan aset. Yang tidak kalah penting adalah menetapkan tujuan, memahami risiko, melakukan diversifikasi sesuai kebutuhan, menyediakan perlindungan, dan mengevaluasi strategi secara berkala agar rencana finansial dapat terus menyesuaikan dengan perubahan kehidupan.