Selasa 29 Sep 2026 13:33 WIB

Keberlanjutan Semakin Terintegrasi dalam Keputusan Investasi Global

Pertimbangan keberlanjutan semakin jadi bagian dari strategi investasi pemilik aset.

Rep: Lintar Satria Zulfikar/ Red: Gita Amanda
Sebanyak 84 persen responden telah memasukkan pertimbangan keberlanjutan ke dalam strategi investasinya. (ilustrasi)
Foto: Dok Republika
Sebanyak 84 persen responden telah memasukkan pertimbangan keberlanjutan ke dalam strategi investasinya. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam laporan terbarunya, lembaga penyedia indeks pasar keuangan dan tolok ukur investasi (benchmark) FTSE Russell mengungkapkan keberlanjutan semakin terintegrasi dalam proses pengambilan keputusan investasi pemilik aset di seluruh dunia. Survei tahunan ke-9 mengenai investasi berkelanjutan tersebut mengumpulkan tanggapan dari 402 pemilik aset di 24 negara.

Hasilnya, sebanyak 84 persen responden telah memasukkan pertimbangan keberlanjutan ke dalam strategi investasinya. Angka tersebut meningkat dibandingkan 73 persen pada tahun sebelumnya. Sebanyak 15 persen responden lainnya masih mengevaluasi penerapan strategi investasi berkelanjutan.

Baca Juga

Dengan demikian, hampir seluruh responden survei telah mempertimbangkan faktor keberlanjutan dalam keputusan investasinya atau tengah mempersiapkan penerapannya. Penerapan tersebut relatif merata di berbagai kawasan.

Sebanyak 85 persen responden di Amerika Utara, 83 persen di Eropa, Timur Tengah dan Afrika, serta 84 persen di Asia Pasifik menyatakan telah menerapkan pertimbangan keberlanjutan pada porsi yang lebih besar dari portofolio investasi mereka. Para pemilik aset juga meningkatkan perhatian terhadap risiko dan peluang investasi dalam jangka panjang.

Menurut FTSE Russell, meningkatnya perhatian pemilik aset terhadap keberlanjutan menunjukkan faktor lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) semakin terintegrasi dalam keputusan investasi. Faktor tersebut tidak lagi dipandang sekadar sebagai pertimbangan tambahan atau bagian dari citra perusahaan, tetapi mulai digunakan untuk menilai prospek, risiko, dan peluang sebuah investasi dalam jangka panjang.

“Pemilik aset terus mengintegrasikan faktor-faktor keberlanjutan secara lebih mendalam ke dalam keputusan investasi, terlepas dari volatilitas pasar dan ketidakpastian kebijakan,” kata Kepala Global Sustainable FTSE Russell Stephanie Maier seperti dikutip dari Sustainability Online, Senin (28/9/2026).

Maier mengatakan faktor keberlanjutan tidak lagi dilihat hanya sebagai pelengkap citra (corporate social responsibility). Para investor menyadari isu-isu seperti perubahan iklim, tata kelola perusahaan, dan dampak sosial dapat secara langsung memengaruhi keuntungan (return) maupun tingkat risiko (risk) aset yang mereka miliki.

"Keberlanjutan semakin menjadi bagian dari praktik investasi inti – elemen rutin dalam penyusunan portofolio dan manajemen risiko," tambahnya.

Survei tersebut juga menunjukkan perubahan dalam jenis risiko keberlanjutan yang menjadi perhatian utama pemilik aset. Risiko fisik akibat perubahan iklim semakin mendapat perhatian. Sebanyak 26 persen responden menyebut risiko fisik terkait iklim sebagai salah satu prioritas. Angka itu meningkat dari 19 persen pada 2025.

Risiko yang berkaitan dengan tata kelola, perpajakan, dan hak pemegang saham juga meningkat tajam. Sebanyak 32 persen responden mengidentifikasinya sebagai prioritas, dibandingkan 18 persen pada tahun sebelumnya.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi