Senin 28 Sep 2026 16:27 WIB

Hilirisasi Angkat Produksi Nikel Olahan Indonesia ke Level Dunia

Satgas Hilirisasi besutan Kementerian ESDM bisa dongkrak nikel indonesia ke global

Pekerja mengoperasikan alat berat di Smelter PT VDNI di Kecamatan Morosi, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, Jumat (16/1/2026). Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memangkas produksi nikel menjadi 250–260 juta ton pada 2026 atau turun dari target produksi dalam rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) 2025 sebanyak 379 juta ton.
Foto: ANTARA FOTO/Andry Denisah
Pekerja mengoperasikan alat berat di Smelter PT VDNI di Kecamatan Morosi, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, Jumat (16/1/2026). Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memangkas produksi nikel menjadi 250–260 juta ton pada 2026 atau turun dari target produksi dalam rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) 2025 sebanyak 379 juta ton.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kebijakan hilirisasi mengubah posisi Indonesia dalam industri nikel global. Produksi nikel olahan nasional melonjak lebih dari 60 kali lipat dalam satu dekade dan pada 2023 menyumbang sekitar 41 persen dari total produksi nikel olahan dunia.

Data Our World in Data yang bersumber dari British Geological Survey menunjukkan produksi nikel olahan Indonesia meningkat dari sekitar 22 ribu ton pada 2014 menjadi lebih dari 1,4 juta ton pada 2023. Indonesia juga telah melampaui Cina sebagai produsen nikel olahan terbesar dunia sejak 2021.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai perkembangan tersebut menunjukkan adanya perubahan struktur industri nikel Indonesia setelah pemerintah mendorong pengolahan komoditas tersebut di dalam negeri.

"Indonesia juga telah berubah dari pengekspor bijih menjadi pusat produksi olahan," kata Yusuf saat dihubungi, Senin (28/9/2026).

Menurut Yusuf, peningkatan produksi nikel olahan menunjukkan kebijakan penghentian ekspor bijih nikel telah mendorong pembangunan fasilitas pengolahan sekaligus meningkatkan kapasitas industri di dalam negeri.

Perubahan tersebut, kata dia, juga memberikan posisi tawar yang lebih besar bagi Indonesia dalam rantai pasok nikel global. Namun, besarnya pangsa produksi perlu diikuti dengan kebijakan yang mampu menjaga keseimbangan antara pasokan bahan baku, kapasitas smelter, harga komoditas, dan penerimaan negara.

Karena itu, Yusuf menilai penataan produksi melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) menjadi salah satu instrumen penting. Pengendalian produksi dapat membantu menjaga keseimbangan pasar, tetapi penerapannya tetap perlu memperhatikan kebutuhan bahan baku industri pengolahan di dalam negeri.

"Pengurangan volume dapat meningkatkan penerimaan negara jika mampu mengangkat harga, tetapi kuota tidak boleh terlalu ketat hingga smelter kekurangan bahan baku," ujarnya.

Yusuf menambahkan, manfaat hilirisasi tidak hanya dapat dilihat dari peningkatan produksi nikel olahan. Investasi, ekspor produk olahan, penerimaan negara, serta penyerapan tenaga kerja juga menjadi bagian dari dampak yang perlu diperhatikan.

Menurut dia, posisi Indonesia sebagai salah satu pemain terbesar dalam industri nikel global dapat menjadi modal untuk memperdalam struktur industri. Namun, penguatan tersebut membutuhkan dukungan teknologi, perluasan pasar, serta peningkatan porsi nilai tambah yang dinikmati di dalam negeri.

"Pangsa 41 persen merupakan modal tawar yang besar, tetapi baru menjadi kekuatan ekonomi jika Indonesia menguasai teknologi, memperluas pembeli, menjaga harga, dan mempertahankan lebih banyak nilai tambah di dalam negeri," kata Yusuf.

Analis senior Indonesia Strategic and Economics Action Institution Ronny P. Sasmita menilai perkembangan produksi nikel olahan menunjukkan terjadinya perubahan struktural dalam industri nasional.

Mengacu pada data Our World in Data berbasis British Geological Survey, Ronny menyebut produksi nikel olahan Indonesia meningkat dari sekitar 22 ribu ton pada 2014 menjadi lebih dari 1,4 juta ton pada 2023. Kenaikan tersebut membuat pangsa Indonesia dalam produksi nikel olahan dunia meningkat dari sekitar 1 persen menjadi 41 persen.

"Jadi, kalau parameternya adalah kemampuan mengubah bijih menjadi produk olahan di dalam negeri, hilirisasi jelas menghasilkan transformasi struktural," ujar Ronny.

Dari sisi investasi, sektor hilirisasi juga menjadi salah satu kontributor penting terhadap realisasi investasi nasional. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat investasi sektor hilirisasi mencapai Rp300,1 triliun pada semester I 2026 atau sekitar 29,7 persen dari total realisasi investasi nasional. Nilai tersebut tumbuh 6,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari total investasi hilirisasi sektor mineral sebesar Rp206,5 triliun pada periode tersebut, investasi untuk komoditas nikel mencapai Rp71 triliun.

Ronny mengatakan masuknya investasi tersebut berpotensi memperluas kapasitas industri, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan ekspor produk olahan, dan memperdalam basis manufaktur nasional.

Namun, menurut dia, capaian produksi nikel perlu dilanjutkan dengan pengembangan industri yang memiliki nilai tambah lebih tinggi. Pengembangan teknologi seperti high pressure acid leach (HPAL), nickel sulphate, precursor, cathode active material, hingga industri daur ulang dan baterai menjadi tahapan penting dalam memperdalam struktur industri.

"Masuknya investasi tersebut menciptakan efek berganda berupa pembangunan kapasitas industri, penciptaan lapangan pekerjaan, peningkatan nilai ekspor, serta semakin dalamnya basis manufaktur nasional. Ke depan, manfaat tersebut dapat diperbesar melalui transfer teknologi, peningkatan keterlibatan pemasok domestik, penguatan kualitas tenaga kerja serta peningkatan penerimaan negara," ujarnya.

Ronny menilai posisi Indonesia sebagai produsen nikel olahan terbesar dunia menjadi fondasi untuk memasuki tahap deep industrialization. Tantangannya bukan lagi sekadar meningkatkan volume produksi, melainkan memastikan peningkatan produksi tersebut diikuti penguasaan teknologi dan nilai tambah yang lebih besar di dalam negeri.

"Gelar 'raja nikel' baru merupakan babak pertama. Babak keduanya jauh lebih penting, apakah Indonesia hanya menjadi negara dengan produksi nikel terbesar, atau benar-benar menjadi negara yang paling besar menikmati nilai ekonomi, teknologi dan kekuatan industri dari nikelnya," ujar Ronny.

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi