Jumat 25 Sep 2026 19:19 WIB

Harga Cabai Naik, Kesiapan Pasokan dari Hulu hingga Distribusi Perlu Diperkuat

Kesiapan pasokan perlu dibangun sejak masa tanam hingga distribusi.

Rep: Bayu Adji Prihammanda/ Red: Satria K Yudha
Pedagang menata cabai dagangannya di Tebet Barat, Jakarta, Senin (9/2/2026). Menurut pedagang, harga sejumlah kebutuhan pokok di pasar tersebut menjelang bulan suci Ramadan mengalami kenaikan. Di antaranya, harga cabai rawit merah mencapai Rp100.000 per kilogram dan tomat menjadi Rp24.000 per kilogram, sementara harga bawang merah dan bawang putih belum mengalami kenaikan signifikan. Selain itu, harga sayuran hijau seperti sawi, bayam, kangkung, hingga buncis juga mengalami kenaikan rata-rata Rp1.000 hingga Rp2.000, yang telah berlangsung selama lebih dari sepekan.
Foto: Republika/Prayogi
Pedagang menata cabai dagangannya di Tebet Barat, Jakarta, Senin (9/2/2026). Menurut pedagang, harga sejumlah kebutuhan pokok di pasar tersebut menjelang bulan suci Ramadan mengalami kenaikan. Di antaranya, harga cabai rawit merah mencapai Rp100.000 per kilogram dan tomat menjadi Rp24.000 per kilogram, sementara harga bawang merah dan bawang putih belum mengalami kenaikan signifikan. Selain itu, harga sayuran hijau seperti sawi, bayam, kangkung, hingga buncis juga mengalami kenaikan rata-rata Rp1.000 hingga Rp2.000, yang telah berlangsung selama lebih dari sepekan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Harga cabai rawit pada pekan ketiga September 2026 mencapai Rp77.596 per kilogram dan mengalami kenaikan di 265 kabupaten/kota atau sekitar 73,61 persen wilayah Indonesia. Kondisi tersebut menjadi momentum untuk memperkuat kesiapan pasokan cabai dari produksi, cadangan, hingga distribusi antardaerah.

Anggota Komisi IV DPR Sonny T Danaparamita mengatakan kenaikan harga cabai rawit tidak semata dipengaruhi kondisi cuaca. Menurut dia, perubahan pola cuaca perlu menjadi dasar bagi pemerintah untuk menyiapkan langkah antisipasi produksi sejak awal.

Baca Juga

Menurut Sonny, El Nino yang kuat dan mundurnya musim hujan di ratusan zona musim memang dapat memengaruhi hasil pertanian. Namun, kesiapan pasokan juga ditentukan oleh luas tanam, pola panen, produktivitas, ketersediaan cadangan, distribusi antardaerah, dan biaya logistik.

Ia mengatakan, gangguan produksi di sentra pertanian dapat dengan cepat memengaruhi pasokan apabila daerah lain belum siap memasok kebutuhan. Jalur distribusi, ongkos angkut, dan keterbatasan pasokan juga dapat membuat harga di tingkat konsumen bergerak lebih tinggi.

“Saya memahami El Nino membawa dampak pada sektor pertanian, tetapi kita harus menyiapkan mitigasinya. Kita susun antisipasinya sejak awal agar risikonya bisa ditanggulangi,” ujar Sonny, Jumat (25/9/2026).

Menurut Sonny, kenaikan harga di tingkat konsumen juga belum tentu meningkatkan keuntungan petani. Kenaikan biaya produksi dan pengiriman dapat mengurangi pendapatan petani ketika harga cabai di pasar meningkat.

Karena itu, ia meminta pemerintah memperhatikan kesiapan produksi, terutama untuk menghadapi perubahan pola cuaca. Embung, sumber air alternatif, perbaikan irigasi, teknologi hemat air, serta penggunaan varietas yang sesuai dengan kondisi wilayah dapat disiapkan untuk menjaga produksi.

“Pengendalian harga tidak bisa menunggu sampai cabai sudah mahal. Persiapan harus dimulai dari masa tanam, dari sentra produksi, sampai jalur distribusinya. Dengan begitu, petani tidak dirugikan dan masyarakat tidak terus dibebani harga tinggi,” kata Sonny.

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi