Kamis 24 Sep 2026 00:17 WIB

Menjaga Listrik Tetap Andal di Tengah Ledakan Energi Terbarukan

Transisi energi dan pertumbuhan ekonomi digital berjalan beriringan.

Wartsila, perusahaan teknologi global asal Finlandia, berpartisipasi di Enlit Asia – MKI Electricity Connect, dengan menghadirkan teknologi mesin dual-fuel Wartsila 34DF yang mengedepankan fleksibilitas jaringan listrik untuk mendukung semakin meningkatnya kebutuhan pasokan listrik di Indonesia
Foto: ist
Wartsila, perusahaan teknologi global asal Finlandia, berpartisipasi di Enlit Asia – MKI Electricity Connect, dengan menghadirkan teknologi mesin dual-fuel Wartsila 34DF yang mengedepankan fleksibilitas jaringan listrik untuk mendukung semakin meningkatnya kebutuhan pasokan listrik di Indonesia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perjalanan Indonesia menuju energi yang lebih bersih memasuki babak baru. Di satu sisi, pembangkit energi terbarukan terus dikembangkan, di sisi lainnya kebutuhan listrik ikut melonjak seiring industrialisasi, elektrifikasi, dan tumbuhnya pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI).

Di tengah perubahan itu, sistem kelistrikan Indonesia menghadapi satu kebutuhan penting: fleksibilitas. Jaringan listrik tidak hanya dituntut memiliki pasokan yang cukup, tetapi juga mampu merespons perubahan kebutuhan dan menjaga keandalan ketika produksi energi terbarukan mengalami fluktuasi.

Kelompok teknologi global Wärtsilä menilai fleksibilitas jaringan menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan energi sekaligus menekan emisi. Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, Indonesia berencana menambah kapasitas pembangkit listrik sebesar 69,5 gigawatt (GW) hingga 2034. Dari jumlah tersebut, 42,6 GW berasal dari energi terbarukan dan 10,3 GW merupakan kapasitas gas baru.

Meningkatnya porsi tenaga surya dan angin membuat sistem kelistrikan harus semakin lincah. Produksi pembangkit tersebut dapat berubah mengikuti kondisi alam. Karena itu, dibutuhkan pembangkit yang dapat dengan cepat menyesuaikan pasokan ketika produksi energi terbarukan naik atau turun.

“Ketahanan energi pada akhirnya berarti memiliki sistem tenaga listrik yang mampu beradaptasi,” ujar Managing Director PT Wärtsilä Indonesia, Ossi Ylinen. Menurut dia, Indonesia memiliki peluang memperluas energi terbarukan sembari menopang pertumbuhan ekonomi dan digital.

Kebutuhan fleksibilitas semakin terasa ketika Indonesia mengejar pengembangan 100 GW tenaga surya. Ketika pembangkit surya bertambah, sistem membutuhkan kapasitas penyeimbang yang dapat bekerja ketika produksi listrik surya berfluktuasi atau berhenti setelah matahari terbenam.

Pembangkit berbasis mesin dengan kemampuan start-up cepat menjadi salah satu bagian dari sistem tersebut. Menurut Vice President, Middle East and Asia, Wärtsilä Energy, Frederic Carron, mesin Wärtsilä dapat dinyalakan dan mencapai beban penuh dalam waktu kurang dari dua menit. Output-nya juga dapat disesuaikan dengan cepat mengikuti kebutuhan jaringan.

Kondisi geografis Indonesia juga membuat kebutuhan itu tidak sederhana. Sistem kelistrikan membentang dari jaringan interkoneksi besar dan kawasan industri hingga pulau-pulau kecil yang memiliki sistem kelistrikan terisolasi. Karena karakter setiap wilayah berbeda, kebutuhan teknologi pun tidak bisa disamaratakan.

Pengalaman di Lombok, Nusa Tenggara Barat, menjadi salah satu contohnya. Pembangkit berkapasitas 135 MW yang dilengkapi 13 mesin dual-fuel Wärtsilä 34DF memasok hampir 40 persen kebutuhan listrik pulau tersebut. Sebagian kapasitasnya juga digunakan untuk membantu penyeimbangan jaringan dan mendukung integrasi 20 MW PLTS.

 

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi