REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indonesia memiliki potensi biomassa dari sektor industri sekitar 80 juta ton per tahun. Namun, pemanfaatan biomassa untuk kebutuhan PT PLN saat ini baru mencapai sekitar 2,5 juta ton per tahun.
Direktur Biomassa PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) Hokkop Situngkir mengatakan, potensi tersebut masih terbuka luas untuk dikembangkan sebagai bagian dari diversifikasi energi dan percepatan transisi energi nasional. Dari sekitar 80 juta ton potensi biomassa industri tersebut, sekitar 20 juta ton telah dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan.
“PLN hanya 2,5 juta ton. Namun, meskipun hanya 2,5 juta ton untuk PLN, kami adalah perusahaan terbesar di Asia yang bisa menggunakan biomassa untuk cofiring,” kata Hokkop dalam Panel Discussion #1: Driving Sustainable Forest Development through Biomass and Resilient Forest Management, bagian dari Sweden-Indonesia Sustainability Partnership (SISP) Forestry Industry Session di Jakarta, dikutip Kamis (10/9/2026).
PLN EPI, lanjut dia, terus mendorong peningkatan pemanfaatan biomassa melalui program cofiring di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Pada tahun lalu, pemanfaatan biomassa untuk kebutuhan PLN mencapai sekitar 2,5 juta ton dan tahun ini ditargetkan meningkat menjadi sekitar 3,4 juta ton.
“Tahun lalu kami baru mencapai sekitar 2,5 juta ton. Tahun ini kami akan mencapai sekitar 3,4 juta ton biomassa untuk disediakan kepada seluruh perusahaan kami,” ujar Hokkop.
Ia menerangkan masih terdapat sekitar 60 juta ton biomassa yang berpotensi dikembangkan dari sektor industri. Potensi tersebut bahkan belum memperhitungkan limbah rumah tangga maupun sumber biomassa berbasis air.
Besarnya potensi tersebut membuat biomassa memiliki ruang untuk mengambil peran lebih besar dalam bauran energi nasional. PLN EPI mendorong pengembangan biomassa tidak hanya untuk menyediakan bahan bakar pembangkit, tetapi juga membangun ekosistem dari hulu hingga hilir.