REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah lesunya perdagangan batu bara global, Indonesia justru mencatat peran ganda yang kontradiktif. Di satu sisi, volume ekspor batu bara Indonesia turun signifikan pada paruh pertama 2026. Di sisi lain, Indonesia menjadi salah satu penyebab lonjakan impor batu bara metalurgi yang didorong oleh kebutuhan industri pengolahan nikel dan aluminium, menjadikannya salah satu pendorong utama sektor batu bara industri global.
Analisis Bombay Strategy dalam laporan “H1 2026 Global Coal Imports” mengungkapkan, perdagangan batu bara global hanya tumbuh 0,8 persen secara tahunan (year-on-year) menjadi 639,9 juta ton pada semester I 2026. Volume tersebut lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2024 (677,1 juta ton).
Pertumbuhan ini tidak didorong oleh batu bara termal (thermal coal) yang justru terkontraksi 0,9 persen, melainkan oleh batu bara metalurgi, kokas, dan antrasit yang melonjak 4,4 persen menjadi 157,3 juta ton. Kenaikan ini terjadi meskipun produksi baja dunia turun 0,7 persen, sehingga menegaskan bahwa lonjakan tersebut murni disebabkan oleh faktor non-produksi baja.
Pendiri Bombay Strategy Hozefa Merchant mengatakan pemulihan tipis ini bukanlah ekspansi pasar, melainkan koreksi marginal dari basis tahun 2025 yang lemah. Peningkatan impor batu bara metalurgi sebagian besar disebabkan oleh guncangan pasokan domestik di China, penghapusan kuota impor kokas metalurgi di India, dan pertumbuhan kapasitas industri pengolahan nikel serta aluminium di Indonesia.
“Ambisi Indonesia di sektor ini semakin nyata dengan adanya akuisisi portofolio tambang Anglo-American di Queensland, Australia, oleh perusahaan yang berbasis di Indonesia dan terdaftar di Inggris, menandakan strategi jangka panjang untuk mengamankan rantai pasok industri dalam negeri,” kata Hozefa dalam pernyataannya, Selasa (8/9/2026).
Data menunjukkan, saat Indonesia menerapkan kebijakan pengetatan ekspor pada Maret-Juni 2026, impor batu bara termal global justru turun 1,7 persen, dengan kawasan Asia yang menguasai 88,6 persen volume termal dunia anjlok 3,6 persen. Bahkan Eropa yang terdampak langsung oleh gangguan pasokan gas alam cair (LNG) dari Qatar tidak beralih ke batu bara, justru mencatatkan penurunan terbesar impor termal mencapai 11,1 persen secara tahunan.