Ahad 06 Sep 2026 19:47 WIB

Status Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga Level III, Radius Aman 3 Kilometer

Badan Geologi menyatakan aktivitas vulkanik masih tinggi.

Rep: Eva Rianti/ Red: Ahmad Fikri Noor
Gunung Anak Krakatau menyemburkan material vulkanik ke udara setelah erupsi di Selat Sunda, Sabtu (5/9/2026). Gunung Anak Krakatau saat ini berada pada tingkat siaga tertinggi kedua.
Foto: EPA/INDONESIAN GEOLOGICAL AGENCY
Gunung Anak Krakatau menyemburkan material vulkanik ke udara setelah erupsi di Selat Sunda, Sabtu (5/9/2026). Gunung Anak Krakatau saat ini berada pada tingkat siaga tertinggi kedua.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI Lana Saria menyampaikan status Gunung Anak Krakatau hingga Ahad (6/9/2026) siang masih siaga atau level III. Adapun zonasi aman berada di radius 3 kilometer (km).

“Status untuk potensi erupsi saat ini masih pada level III atau siaga. Status level III siaga ini bukan berarti gunung api tidak tinggi, tetapi memang status tersebut menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik berada pada tingkat tinggi dan erupsi dapat terjadi,” kata Lana dalam konferensi pers Update Situasi Terkini Pascaerupsi Gunung Anak Krakatau yang digelar secara daring, Ahad (6/9/2026).

Baca Juga

Lana menjelaskan berdasarkan evaluasi menyeluruh, ancaman yang teridentifikasi saat ini masih terutama terkonsentrasi di sekitar tubuh Gunung Anak Krakatau. Ia menyebut penetapan status siaga tidak hanya didasarkan pada jumlah atau tinggi kolom erupsi, tetapi meliputi seluruh parameter, yakni parameter karakter dan energi gempa letusan, gempa vulkanik, gempa frekuensi rendah, getaran harmonik serta tremor menerus, perubahan deformasi tubuh gunung, emisi gas dan kondisi kawah, serta perubahan morfologi.

“Kita akan terus melakukan evaluasi secara real time up to date 24 jam. Jadi, belum ada status ini dikategorikan dinaikkan, tetapi masih pada status level III,” tegasnya.

Lana melanjutkan, mengenai zonasi aman, masyarakat dilarang mendekati pusat aktivitas dalam radius 3 km. Hal itu ditetapkan berdasarkan karakter erupsi, jangkauan lontaran material, kondisi morfologi, dan hasil evaluasi data visual.

“Dengan kondisi saat ini, bahaya langsung diperkirakan masih dominan berada di sekitar pusat aktivitas dalam radius tersebut. Jadi, radius rekomendasi dapat diperluas nantinya apabila terjadi peningkatan energi atau skala erupsi secara signifikan, lontaran material mencapai jarak yang lebih jauh, peningkatan deformasi atau tekanan dalam tubuh gunung, perubahan morfologi yang meningkatkan potensi ketidakstabilan tubuh gunung, dan munculnya aliran piroklastik atau bahaya lain di luar radius 3 km,” terangnya.

Dengan demikian pula, dipastikan belum ada potensi yang mengancam daerah permukiman dari perkembangan aktivitas terbaru erupsi Gunung Anak Krakatau.

photo
Calon penumpang mengantre saat melakukan proses pembatalan tiket atau refund di Terminal 2 keberangkatan Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Ahad (6/9/2026). Sebanyak 209 penerbangan di Bandara International Soekarno Hatta terpaksa dibatalkan imnas dari adanya sebaran abu vulkanik dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang menyebabkan penumpukan calon penumpang di area bandara. Jumlah tersebut terdiri dari 160 penerbangan domestik, 39 penerbangan internasional, dan 10 penerbangan kargo. - (Republika/Thoudy Badai)

 

Berita Lainnya

Rekomendasi