REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani menjelaskan, perkembangan teknologi dan semakin besarnya investasi pemasaran tidak otomatis membuat perusahaan lebih mudah menciptakan pertumbuhan. Menurut dia, persoalan utama yang perlu dijawab perusahaan adalah seberapa besar nilai tambahan yang dihasilkan dari setiap investasi yang dikeluarkan.
"Bukan hanya how much are we investing, but how much incremental growth every investment creates," ujar Shinta dalam siaran pers di Jakarta, Jumat (4/9/2026).
Menurut Shinta, kondisi tersebut membuat kualitas pengambilan keputusan menjadi semakin penting bagiChief Marketing Officer (CMO). Keunggulan perusahaan tidak hanya ditentukan oleh besarnya investasi, tetapi juga oleh kecepatan membaca sinyal pasar, menerjemahkan data menjadi insight, mengalokasikan sumber daya, serta menghubungkan aktivitas marketing dengan hasil bisnis yang terukur.
Dia menilai, keputusan terkait segmentasi pelanggan, pemilihan kanal, alokasi media, pembangunan merek, hingga portofolio produk harus dipandang sebagai keputusan untuk mengalokasikan growth capital, bukan sekadar aktivitas pemasaran. Shinta bahkan berkelakar bahwa CMO kini dapat dimaknai sebagai "Chief Mana Sih Omsetnya".
Hal itu mengingat tuntutan terhadap pemimpin pemasaran semakin besar untuk menunjukkan kontribusi langsung terhadap pendapatan dan pertumbuhan perusahaan. Shinta juga menyarankan, perusahaan perlu memperpendek jarak antara apa yang diketahui mengenai pelanggan dengan tindakan yang diberikan kepada pelanggan.