REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bagi sebagian orang, investasi mungkin bermula dari keinginan sederhana: menyisihkan sebagian uang dan berharap nilainya tumbuh di kemudian hari. Namun, ketika seseorang mulai lebih aktif berinvestasi, kebutuhannya perlahan berubah.
Bukan lagi sekadar melakukan transaksi, tetapi juga memantau portofolio, membaca perkembangan pasar, dan mencermati berbagai informasi sebelum mengambil keputusan. Perubahan kebiasaan itu berlangsung seiring semakin banyaknya masyarakat yang masuk ke pasar modal Indonesia.
Berdasarkan rilis resmi Bursa Efek Indonesia (BEI), KPEI, dan KSEI dalam rangka HUT ke-49 Pasar Modal Indonesia, jumlah investor pasar modal mencapai 30,3 juta per 7 Agustus 2026. Angka tersebut meningkat sekitar 9,9 juta investor, dengan sekitar 1,4 juta investor aktif bertransaksi setiap bulan.
Bertambahnya jumlah investor sekaligus membawa kebutuhan baru dalam pengalaman berinvestasi. Ketika aktivitas di pasar modal semakin dekat dengan keseharian, kebutuhan untuk mendapatkan informasi yang mudah dipantau pun menjadi semakin penting.
Gambaran tersebut terlihat dari perkembangan penggunaan Tuntun. Hingga September 2026, jumlah penggunanya mencapai 250 ribu, atau meningkat 10 kali lipat dibandingkan 2025. Pada periode yang sama, aktivitas transaksi melalui platform tersebut juga meningkat sembilan kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Pertumbuhan itu tidak hanya menggambarkan aktivitas transaksi. Tuntun menyebut penggunaannya semakin terkait dengan kegiatan memantau portofolio dan mengambil keputusan investasi sehari-hari.
Kondisi tersebut kemudian mendorong hadirnya Tuntun dalam versi desktop. Kehadiran versi ini memberikan pilihan bagi nasabah yang membutuhkan tampilan lebih luas untuk melihat portofolio, watchlist, informasi pasar, dan berbagai insight.
Direktur PT Tuntun Sekuritas Indonesia, Ricki Juliandi, mengatakan perubahan kebutuhan tersebut menjadi salah satu alasan pengembangan layanan digital. “Pertumbuhan penggunaan Tuntun menunjukkan bahwa nasabah semakin membutuhkan pengalaman investasi yang lebih informatif dan mudah dipantau,” ujar Ricki.
Layar yang lebih luas, menurut dia, diharapkan dapat melengkapi penggunaan aplikasi mobile, terutama bagi nasabah yang ingin melakukan pemantauan dengan lebih fokus. Namun, pengalaman investasi pada akhirnya bukan hanya perkara seberapa mudah seseorang melakukan transaksi.
Ada kebutuhan yang lebih mendasar, yakni memperoleh informasi yang jelas dan membangun rasa percaya ketika mengambil keputusan. “Kami percaya pengalaman investasi yang baik bukan hanya soal kemudahan transaksi, tetapi juga soal kejelasan informasi dan rasa percaya,” kata Ricki.