REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di antara tanaman sawit yang tengah memasuki masa peremajaan, PTPN IV PalmCo mencoba menghadirkan komoditas lain. Perusahaan perkebunan tersebut mulai menanam kedelai di lahan yang menunggu untuk kembali ditanami sawit.
Langkah itu menjadi bagian dari proyek percontohan penanaman kedelai seluas 1.000 hektare yang dilakukan serentak di 20 titik wilayah kerja PTPN IV PalmCo. Penanaman perdana dipusatkan di Kebun Adolina Regional 2, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, dan terhubung secara daring dengan sejumlah wilayah lain di enam provinsi.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K Santosa, mengatakan program ini merupakan tindak lanjut atas penugasan pemerintah untuk mendukung ketahanan pangan nasional, khususnya komoditas kedelai. “Alhamdulillah, PTPN IV telah melaksanakan tanam perdana proyek percontohan kedelai. Ini merupakan tindak lanjut kita atas arahan Bapak Presiden melalui bapak Menteri Pertanian untuk meningkatkan produksi nasional dan menekan import kedelai,” kata dia.
Menurut dia, lahan yang digunakan dalam tahap awal seluruhnya merupakan kawasan peremajaan sawit milik perusahaan. Lahan tersebut dimanfaatkan selama masa tunggu sebelum kembali ditanami sawit.
“Sehingga kurang lebih selama 6 bulan sebelum sawit kembali ditanam, kita akan menanam kedelai terlebih dahulu,” ujarnya.
Pemanfaatan lahan tersebut dinilai dapat menjadi salah satu cara untuk mengoptimalkan areal perkebunan pada masa peremajaan. Namun, karena kedelai merupakan komoditas yang baru dikembangkan oleh perusahaan, PTPN IV PalmCo memilih memulainya dalam skala percontohan.
Jatmiko mengatakan, Indonesia dalam lima tahun terakhir rata-rata masih mengalami defisit kedelai sekitar 2,5 juta ton per tahun. Kondisi tersebut membuat kebutuhan kedelai nasional masih sangat bergantung pada impor.
Karena itu, keberhasilan proyek percontohan seluas 1.000 hektare tersebut akan menjadi pijakan sebelum program diperluas. Perusahaan juga akan melihat kelayakan pengembangan kedelai dari berbagai aspek dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian dalam investasi.
“Karena kita belum pernah tanam kedelai sebelumnya, kita siapkan pilot project 1.000 hektare dulu. Dan sesuai arahan Danantara, jika ini berhasil serta memperlihatkan kelayakan di berbagai aspek, insya Allah akan dilanjutkan dengan luasan yang lebih masif,” kata Jatmiko.
Perwakilan Direktur Jenderal Pangan Kementerian Pertanian, Arief Muliawan, mengapresiasi langkah tersebut. Menurut dia, upaya perusahaan perkebunan negara itu dapat menjadi contoh bagi perusahaan lain dalam mendukung program swasembada pangan nasional.
Di sisi lain, keberhasilan pengembangan kedelai tidak hanya bergantung pada penanaman. Direktur Produksi dan Pengembangan PTPN III (Persero), Rizal H Damanik, menilai kerja sama berbagai pihak diperlukan apabila program tersebut nantinya diperluas.
Menurut dia, pemerintah, perusahaan, kelompok tani, hingga mitra strategis perlu membangun ekosistem yang mendukung, termasuk memastikan adanya penyerapan hasil panen oleh offtaker. “Jika ingin skalanya lebih besar dan persentase keberhasilannya tinggi, kerja sama banyak pihak mulai dari pemerintah, perusahaan, kelompok tani dan mitra strategis lainnya pasti akan sangat dibutuhkan,” ujarnya.
Dalam proyek percontohan tersebut, PTPN IV PalmCo menanam kedelai varietas Grobogan. Varietas tersebut memiliki potensi produksi hingga dua ton per hektare dengan siklus tanam sekitar 85–90 hari.
Proyek ini diharapkan tidak berhenti sebagai uji coba. Jika menunjukkan hasil dan kelayakan yang baik, penanaman kedelai di lahan peremajaan sawit berpeluang dikembangkan dalam skala yang lebih luas dan berkelanjutan.