REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) membukukan laba bersih Rp31,2 triliun pada triwulan II 2026. Laba tersebut tumbuh 17,5 persen secara tahunan.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan pertumbuhan laba dibarengi dengan penguatan fundamental dan perbaikan kualitas aset.
Hingga akhir Juni 2026, kredit dan pembiayaan BRI Group tumbuh 16,2 persen menjadi Rp1.646 triliun. Sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp1.581 triliun, tumbuh 6,7 persen.
“Capaian tersebut menunjukkan bahwa transformasi mulai kami konversikan menjadi kinerja. Bagi kami, yang terpenting bukan hanya seberapa cepat BRI bertumbuh, tetapi bagaimana pertumbuhan tersebut dihasilkan dari fundamental yang semakin sehat,” ujar Hery dalam pemaparan kinerja yang digelar daring, Senin (31/8/2026).
Kualitas kredit juga membaik. Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) turun dari 3 persen pada triwulan II 2025 menjadi 2,9 persen pada periode yang sama tahun ini. Cost of credit turun dari 3,4 persen menjadi 3,1 persen.
Dari sisi efisiensi, cost to income ratio (CIR) membaik dari 41,9 persen menjadi 39,2 persen. Sementara cost of fund (CoF) turun dari 3 persen menjadi 2,4 persen.
Di tengah pertumbuhan tersebut, UMKM tetap menjadi penopang utama bisnis BRI. Hingga akhir Juni 2026, sekitar 75,1 persen portofolio kredit dan pembiayaan BRI Group disalurkan kepada UMKM.
Lihat postingan ini di Instagram