REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bitcoin (BTC) kembali menguat dan menembus level 80 ribu dolar AS pada 25 Agustus 2026 setelah bergerak di kisaran 64 ribu dolar AS pada 17 Agustus. Penguatan tersebut terjadi di tengah perubahan sentimen makro global serta meningkatnya arus dana ke exchange traded fund (ETF) spot Bitcoin.
Chief Marketing Officer Indodax Aloysia Dian menilai penguatan Bitcoin menunjukkan perubahan sentimen pasar yang tercermin dari sejumlah indikator. Namun, kenaikan harga yang berlangsung cepat tetap perlu diikuti dengan pengelolaan risiko.
“Momentum Bitcoin dalam beberapa hari terakhir menunjukkan perubahan sentimen yang cukup signifikan. Penguatan harga berjalan bersamaan dengan meningkatnya permintaan melalui ETF spot Bitcoin dan membaiknya kondisi pasar. Namun, kenaikan yang berlangsung cepat tetap perlu diimbangi dengan disiplin dalam mengelola risiko, terutama bagi investor yang baru kembali melihat peluang di pasar,” ujar Aloysia, Sabtu (29/8/2026).
Salah satu faktor yang menjadi perhatian pasar adalah kebijakan Treasury buyback Amerika Serikat. Kebijakan tersebut disebut turut menjaga likuiditas dan mendorong minat terhadap aset berisiko, termasuk kripto.
Dari sisi permintaan, ETF spot Bitcoin di Amerika Serikat kembali mencatat arus dana positif. Berdasarkan data SoSoValue, ETF Bitcoin spot mencatat net inflow sekitar 2,57 miliar dolar AS pada periode 17-25 Agustus 2026.
Pada periode yang sama, CryptoQuant mencatat Bull Score Bitcoin meningkat dari 30 menjadi 80 dalam sepekan. Kondisi tersebut menunjukkan meningkatnya optimisme dan selera risiko pelaku pasar.
Setelah bergerak relatif terbatas pada awal Agustus, Bitcoin mulai menguat pada 19 Agustus dan naik lebih dari 20 persen dalam tiga hari. Penguatan yang turut dipengaruhi short squeeze tersebut membawa Bitcoin menembus 80 ribu dolar AS pada 25 Agustus.
“Arus dana ETF menjadi salah satu indikator bahwa permintaan terhadap Bitcoin kembali menguat. Ketika peningkatan permintaan tersebut berjalan bersamaan dengan kenaikan harga, momentum pasar menjadi lebih kuat. Namun, pergerakannya tetap perlu dibaca bersama kondisi makro, likuiditas, aktivitas pasar, dan sentimen investor secara keseluruhan,” jelas Aloysia.
Meski momentum pasar menguat, sentimen investor yang sudah berada di area optimistis juga perlu dicermati. Kondisi tersebut dapat membuka peluang sekaligus meningkatkan risiko volatilitas jika pelaku pasar terlalu agresif mengejar harga.
Aloysia mengatakan investor perlu menyesuaikan strategi dengan tujuan dan profil risiko masing-masing. Investor jangka pendek dapat mengevaluasi ukuran posisi dan batas risiko, sementara investor jangka panjang dapat mempertimbangkan pendekatan bertahap.
“Momentum bullish tidak selalu bergerak dalam satu arah. Fokus investor sebaiknya bukan mengejar harga atau menebak titik tertinggi, tetapi memahami faktor yang menggerakkan pasar dan memiliki rencana menghadapi berbagai skenario,” tambah Aloysia.
Indodax juga mengingatkan investor untuk melakukan Do Your Own Research (DYOR), memahami karakteristik dan volatilitas aset kripto, serta menerapkan manajemen risiko sebelum mengambil keputusan transaksi.