REPUBLIKA.CO.ID, GUNUNGAN gabah terhampar di atas terpal plastik yang memantulkan cahaya keemasan. Gabah itu baru saja selesai dipanen di areal sawah yang digarap seorang petani di Desa Srengseng, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, pertengahan Juli lalu.
Di tengah terik matahari yang menyengat di atas kepala, Sodik (62), petani pemilik gabah itu, tampak tak mampu menyembunyikan senyum bahagianya.
Meski peluh mengucur deras di sela-sela garis wajahnya yang lelah, rasa lega dan syukur terpancar jelas dari raut mukanya. “Ya Alhamdulillah hasilnya lumayan,” ujar Sodik singkat sembari menatap hasil jerih payahnya.
Luas sawah yang yang digarapnya itu tak sampai berbilang hektare. Karena itu, hasil panen yang diperoleh hanya mencapai dua ton. Itu pun masih harus dibagi dua dengan pemilik lahan karena ia hanya petani penggarap. “Ya sistemnya paroan. Jadi satu ton untuk pemilik sawah, satu ton untuk saya,” jelas Sodik.
Sodik mengakui, hasil panen kali ini mengalami sedikit penurunan dibandingkan tahun lalu. Ia menyebut, panen tahun sebelumnya mencapai 2,2 ton turun sekitar dua kuintal.
Meski demikian, Sodik tetap bersyukur dengan hasil panen yang bisa digunakannya untuk memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk membiayai kuliah anaknya. Terlebih, penyerapan beras terasa mudah dan menguntungkan.
Bulog datang langsung ke areal sawah untuk membeli gabahnya tersebut. Ia mengungkapkan, langkah Bulog itu sangat meringankan beban karena dapat memangkas biaya angkut. Gabahnya pun dibeli secara tunai sesuai harga pembelian pemerintah (HPP) untuk gabah kering panen (GKP), yakni Rp 6.500 per kilogram.
Kehadiran Bulog untuk menyerap hasil panen juga disambut baik oleh para petani lainnya. Petani di Desa Tambi, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, Kasunah, mengaku senang menjual hasil panen padinya ke Bulog. Ia tak perlu repot mencari pembeli ataupun menjemur gabah yang baru dipanennya.
“Kita petani kan gak mau repot. Kalau kita jual ke Bulog, (gabah) langsung diangkut. Petani jadi gak susah. Habis panen, langsung dijual, gak dibawa ke rumah,” ujar Kasunah kepada Republika, Jumat (31/7/2026).
Kasunah mengatakan, menanam padi di lahan sawah seluas 400 bata. Adapun hasil panennya mencapai sekitar empat ton.
Gabah tersebut langsung diserap oleh Bulog dengan harga sesuai harga pembelian pemerintah (HPP) untuk gabah kering panen (GKP), yakni Rp 6.500 per kilogram. Petani pun langsung menerima pembayaran secara tunai.
“Pembayaran tunai. Jadi kita pulang langsung dapat duit. Gak perlu ngangkut, ibaratnya cuma duduk manis,” tukasnya.
Kasunah menambahkan, HPP GKP sebesar Rp 6.500 per kilogram telah memberi keuntungan bagi petani, termasuk dirinya. Ia pun berterima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto yang telah menetapkan HPP GKP sebesar Rp 6.500 per kilogram.
Mencegah tengkulak
Salah satu tujuan penting mengapa Bulog turun ke lapangan adalah untuk meminimalisasi kehadiran tengkulak. Bukan tanpa alasan, bila panen kurang bagus, maka posisi tengkulak diuntungkan untuk menekan petani. Alhasil, petani kena pukul dua kali. Hasil panen minim dan harga ditekan.
Wakil Ketua Kontak Tani Nelayan (KTNA) Kabupaten Indramayu, Wastam Priyatna, mengungkapkan, saat masa panen April lalu, hujan masih sering mengguyur sehingga kualitas gabah menjadi kurang. Ditambah lagi, panen serentak di berbagai daerah sehingga membuat petani susah menjual gabah.
Kondisi itu akhirnya dimanfaatkan oleh tengkulak untuk menekan harga gabah petani. Beruntung, Bulog hadir menyerap gabah petani dengan harga Rp 6.500 per kilogram. “Petani saat itu susah menjual gabahnya. Tapi beruntung Bulog lakukan penyerapan sehingga petani terbantu banget,” tutur Wastam, kepada Republika, Kamis (30/8/2026).
Lihat postingan ini di Instagram