Selasa 04 Aug 2026 19:23 WIB

PHK di Jateng Tembus 6.604 Orang hingga Juli 2026, Industri Garmen dan Tekstil Paling Terdampak

Lebih dari separuh kasus PHK di Jawa Tengah berasal dari industri garmen dan tekstil.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Gita Amanda
Sejumlah pekerja berada di area ruang produksi yang sudah berhenti operasionalnya selama satu bulan di pabrik PT Victory Apparel Indonesia di kawasan Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah, Senin (27/7/2026). Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Semarang mencatat sebanyak 846 buruh dan karyawan di perusahaan garmen yang menerima pesanan merek internasional melalui rantai pasok global PT Victory Apparel Indonesia terancam terdampak Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) karena kondisi kas keuangan yang telah mengalami kerugian akibat pandemi Covid-19, wilayah pabrik sering terendam banjir rob dan permasalahan bahan baku secara terus menerus sehingga gangguan perubahan pasar internasional dapat memengaruhi kondisi perusahaan.
Foto: Kamran Dikarma/Republika
Sejumlah pekerja berada di area ruang produksi yang sudah berhenti operasionalnya selama satu bulan di pabrik PT Victory Apparel Indonesia di kawasan Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah, Senin (27/7/2026). Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Semarang mencatat sebanyak 846 buruh dan karyawan di perusahaan garmen yang menerima pesanan merek internasional melalui rantai pasok global PT Victory Apparel Indonesia terancam terdampak Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) karena kondisi kas keuangan yang telah mengalami kerugian akibat pandemi Covid-19, wilayah pabrik sering terendam banjir rob dan permasalahan bahan baku secara terus menerus sehingga gangguan perubahan pasar internasional dapat memengaruhi kondisi perusahaan.

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Jawa Tengah (Jateng), Ahmad Aziz, mengungkapkan angka PHK di Jateng yang tercatat sepanjang 2026 telah menembus 6.600 orang. Sebagian besar PHK terjadi di industri garmen dan tekstil.

"Jumlah PHK hingga akhir Juli 2026 sebanyak 6.604 orang. Industri garmen dan tekstil menyumbang PHK sebesar 51,4 persen, manufaktur dan mainan anak 21,1 persen, industri kayu 12,5 persen, dan industri bulu mata 9,4 persen," ungkap Aziz saat diwawancarai, Selasa (4/8/2026).

Baca Juga

Dia menambahkan, PHK tersebut terjadi karena sejumlah faktor. "Penyebab PHK antara lain penutupan perusahaan karena merugi, menurunnya order, efisiensi, pailit, dan force majeure seperti kebakaran," ujarnya.

Khusus di bidang garmen, terdapat dua perusahaan di Jateng yang baru-baru ini mengalami kebangkrutan akibat terus menghadapi kerugian selama beberapa tahun terakhir. Mereka adalah PT Victory Apparel Semarang dan PT Samwon Busana Indonesia Jepara. PT Victory melakukan PHK terhadap 846 pekerjanya. Sementara itu, PT Samwon melakukan PHK terhadap 684 pekerja.

Menurut Aziz, jika dibandingkan dengan semester I 2025, angka PHK di Jateng pada semester I tahun ini terbilang lebih rendah. "Tahun lalu lebih banyak karena ada faktor PT Sritex," katanya.

Aziz menjelaskan, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Jateng per Juli 2026 adalah 4,24 persen atau setara 950 ribu orang. Kendati demikian, ia menyebut tingkat serapan tenaga kerja di Jateng pada semester I 2026 menunjukkan tren yang cukup positif, yakni mencapai 213 ribu orang. Industri tekstil, garmen, dan alas kaki masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar.

"Sepuluh besar serapan tenaga kerja yakni di Kota Semarang, Kendal, Jepara, Brebes, Klaten, Kabupaten Tegal, Demak, Kabupaten Semarang, Karanganyar, dan Batang," ujar Aziz.

Berdasarkan data Disnakertrans Jateng, hingga Juli 2026 terdapat 112 ribu orang yang tengah mencari pekerjaan di provinsi tersebut. Sementara itu, jumlah lowongan pekerjaan yang tersedia sebanyak 108 ribu.

Berita Lainnya

Rekomendasi