REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sepanjang 2026, harga bahan bakar minyak (BBM) mengalami tren kenaikan akibat melonjaknya harga minyak mentah dunia di tengah ketidakpastian geoekonomi dan geopolitik global. Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan minat masyarakat untuk berwisata.
Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan jumlah wisatawan mancanegara (wisman) atau warga negara asing yang berwisata ke Indonesia pada semester I 2026 menjadi yang tertinggi sejak 2020. Jumlah wisatawan nusantara (wisnus) atau masyarakat Indonesia yang melakukan perjalanan wisata di dalam negeri pada semester I 2026 juga mencapai titik tertinggi sejak 2019. Sementara itu, pada periode yang sama, jumlah wisatawan nasional (wisnas) atau warga Indonesia yang berwisata ke luar negeri cenderung mengalami penurunan tipis.
Mengenai perkembangan jumlah wisman, data BPS mencatat pada Juni 2026 kunjungan wisman melalui pintu masuk utama mencapai 1,21 juta kunjungan dan melalui pintu masuk perbatasan sebanyak 175.696 kunjungan, sehingga totalnya sekitar 1,39 juta kunjungan. Angka tersebut naik 0,32 persen secara bulanan (month to month/mtm) dan meningkat 2,15 persen secara tahunan (year on year/yoy).
"Secara kumulatif atau sepanjang Januari hingga Juni 2026, total kunjungan wisman mencapai 7,45 juta atau meningkat 5,71 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Capaian kunjungan wisman selama Januari hingga Juni 2026 ini merupakan yang tertinggi sejak 2020," ungkap Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono, dikutip Selasa (4/8/2026).
Kunjungan wisman paling banyak berasal dari pemegang paspor Malaysia (18,66 persen), disusul Singapura (12,25 persen), dan Australia (12,08 persen). Secara bulanan (mtm), terjadi peningkatan kunjungan wisman pemegang paspor Singapura dan Australia, sedangkan pemegang paspor Malaysia mengalami penurunan. Adapun secara tahunan (yoy), terjadi peningkatan kunjungan wisman pemegang paspor Malaysia dan Australia, sementara pemegang paspor Singapura mengalami penurunan.
Berdasarkan pintu masuk utama, wisman paling banyak masuk melalui Bandara Ngurah Rai, Bali, yang didominasi wisatawan pemegang paspor Australia.
BPS mencatat rata-rata pengeluaran wisman pada kuartal II 2026 mencapai 1.285 dolar AS atau sekitar Rp 23 juta dengan asumsi kurs Rp 18.000 per dolar AS. Angka tersebut menurun dibandingkan rata-rata pengeluaran pada kuartal I 2026 sebesar 1.345,61 dolar AS, tetapi meningkat dibandingkan kuartal II 2025 yang sebesar 1.199,71 dolar AS. Rata-rata lama tinggal wisman pada kuartal II 2026 mencapai 10,39 malam, lebih rendah dibandingkan kuartal I 2026.
Berdasarkan jenis pengeluarannya, pada kuartal II 2026 proporsi terbesar dialokasikan untuk akomodasi sebesar 37,21 persen, disusul makanan dan minuman sebesar 19,81 persen, serta belanja dan cendera mata sebesar 11,04 persen.
"Terjadi peningkatan proporsi jenis pengeluaran wisman pada hiburan, sewa kendaraan, dan juga penerbangan domestik," ujar Ateng.