Senin 03 Aug 2026 14:23 WIB

Impor Melonjak, Indonesia Kembali Catat Defisit Perdagangan pada Juni 2026

Lonjakan impor membuat neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat defisit.

Rep: Eva Rianti/ Red: Ahmad Fikri Noor
Suasana aktivitas bongkar muat peti kemas di New Priok Container Terminal One, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (6/8/2025).
Foto: Republika/Thoudy Badai
Suasana aktivitas bongkar muat peti kemas di New Priok Container Terminal One, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (6/8/2025).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2026 mengalami defisit sebesar 0,45 miliar dolar AS, melanjutkan posisi defisit pada Mei 2026. Kondisi ini menjadi defisit dua bulan berturut-turut setelah tren surplus selama 72 bulan sejak Mei 2020 hingga April 2026. Defisit tersebut merupakan selisih antara nilai impor sebesar 25,91 miliar dolar AS dan nilai ekspor sebesar 25,46 miliar dolar AS.

"Pada Juni 2026, nilai ekspor mencapai 25,46 miliar dolar AS atau naik sebesar 8,84 persen (yoy) dibandingkan Juni 2025. Nilai ekspor migas tercatat sebesar 1,07 miliar dolar AS atau turun 3,78 persen (yoy). Sementara itu, nilai ekspor nonmigas naik 9,46 persen (yoy) menjadi 24,39 miliar dolar AS pada Juni 2026," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers, Senin (3/8/2026).

Baca Juga

Ateng menjelaskan kenaikan nilai ekspor Juni 2026 secara tahunan terutama didorong oleh kenaikan ekspor nonmigas pada sejumlah komoditas. Di antaranya bahan bakar mineral (HS27), yang nilainya naik 49,67 persen dengan volume meningkat 15,34 persen. Kemudian nikel dan barang daripadanya (HS75), yang nilainya naik 69,30 persen, meski volumenya turun 12,14 persen. Selain itu, lemak dan minyak hewani/nabati (HS15) mencatat kenaikan nilai 10,45 persen, sedangkan volumenya turun 7,09 persen.

Berdasarkan sektornya, pada Juni 2026 sektor industri pengolahan menjadi kontributor terbesar ekspor nonmigas dengan nilai 20,88 miliar dolar AS. Sektor pertambangan dan lainnya berkontribusi 3,03 miliar dolar AS, sedangkan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang 0,49 miliar dolar AS.

"Pada Juni 2026, total nilai impor mencapai 25,91 miliar dolar AS, atau meningkat 34,27 persen dibandingkan Juni 2025. Nilai impor migas sebesar 4,56 miliar dolar AS atau meningkat 105,15 persen (yoy). Sementara itu, impor nonmigas senilai 21,35 miliar dolar AS meningkat 25,05 persen secara tahunan," ujar Ateng.

Ia mengatakan peningkatan nilai impor secara tahunan terutama didorong oleh kenaikan impor nonmigas dengan andil terhadap peningkatan impor sebesar 22,17 persen.

Berdasarkan penggunaannya, seluruh golongan impor pada Juni 2026 mengalami peningkatan secara tahunan. Nilai impor barang konsumsi naik 17,46 persen dibandingkan Juni 2025. Sementara itu, impor bahan baku/penolong sebagai pendorong utama kenaikan impor meningkat 38,94 persen dengan andil sebesar 26,94 persen. Nilai impor barang modal juga meningkat 26,53 persen.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi