Senin 03 Aug 2026 13:56 WIB

Menuju APEC China 2026, Shenzhen Tawarkan Arena Bermain Raksasa untuk Inovasi dan Teknologi

PDB Shenzhen mencapai sekitar 3,8–4 triliun yuan atau sekitar Rp8.500–9.000 triliun.

Drone show yang menandai pembukaan 2026 Asia-Pasific Innovation Week di Shenzhen, China.
Foto: Dok. China's Mission to ASEAN
Drone show yang menandai pembukaan 2026 Asia-Pasific Innovation Week di Shenzhen, China.

REPUBLIKA.CO.ID, SHENZHEN – China telah berhasil menempatkan diri dalam jajaran negara yang konsisten berinovasi dalam setiap tarikan nafas penduduknya. Denyut keberlanjutan teknologi itu sangat kuat dirasakan di Shenzhen, China.

Sebagai tuan rumah APEC China 2026, kota ini menawarkan kebaruan mutakhir di setiap sisi. Dalam program ASEAN Media Visit China Tour: Guangdong Dynamic, pekan lalu, sekitar 20 jurnalis dan influencer dari negara-negara ASEAN diajak melihat Shenzhen dari dekat.

Baca Juga

Baru mendarat di Bandara Baiyun International Airport, kopi yang dibuat oleh robot sudah menanti. Ini bukan pemandangan aneh di sana, robot kopi ternyata bisa ditemukan di mana saja. Inovasi itu tentu bukan satu-satunya, karena saat berkunjung ke Galaxy World Robot Block dan AI 6S Store, inovasi-inovasi lain dipertontonkan. 

Mulai dari robot kesehatan yang bisa menilai postur tubuh, sepeda dengan tenaga hidrogen, drone kamera yang bisa mengikuti pemiliknya, gitar digital, kacamata AI, dan lain-lainnya. Tidak berhenti di situ, ada mobil kurir tanpa awak yang sudah mengaspal hingga ke Uni Emirat Arab, robot yang bisa menari dan bela diri, robot bermain piano, robot anjing, robot pembersih jalanan, dan masih banyak lagi.

Saat berkunjung ke Ping An Center Tower, yang merupakan gedung tertinggi kelima di dunia, liftnya bisa mengantarkan kami ke lantai 116 hanya dalam waktu 55 detik. Di XAG Co Ltd yang merupakan perusahaan solusi pintar pertanian, ada drone seharga Rp200 juta yang bisa menyiram air ke area ratusan hektar hanya dalam satu jam.

Pengiriman paket dengan drone dari perusahaan digital Meituan juga jadi salah satu solusi pintar yang juga bagian sehari-hari dari inovasi di Shenzhen. Ada lagi, peta digital di China ternyata mencantumkan durasi lampu merah dan hijau lalu lintasnya.

photo
Shenzhen merupakan salah satu kota inti Guangdong-Hong Kong-Macao Greater Bay Area (GBA) yang dulunya adalah desa nelayan. - (Republika/Lida Puspaningtyas)

Direktur Press dan Public Relation Mission of the People’s Republic of China to ASEAN, Li Xinbo mengatakan 5-10 tahun lalu Shenzhen adalah kota yang miskin. Kini, tempat yang dikenal sebagai Silicon Valleynya China itu adalah rumah bagi ide-ide untuk masa depan. 

Shenzhen menjadi kantor pusat berbagai perusahaan teknologi global, seperti Huawei, Tencent, BYD, DJI, Ping An Insurance, dan lainnya. Kehadiran perusahaan-perusahaan tersebut membentuk ekosistem inovasi yang sangat kuat, mulai dari riset, desain, manufaktur, hingga komersialisasi produk.

“Tapi kini, pertumbuhannya sangat-sangat pesat hingga jadi salah kota dengan penyumbang ekonomi terbesar di China,” katanya pada Republika.

Shenzhen merupakan salah satu kota inti Guangdong-Hong Kong-Macau Greater Bay Area (GBA), kawasan ekonomi yang mengintegrasikan 11 kota dengan populasi lebih dari 86 juta jiwa. Berstatus sebagai Special Economic Zone (SEZ) sejak 1980, kota yang berbatasan langsung dengan Hong Kong ini berhasil bertransformasi dari desa nelayan menjadi pusat teknologi, manufaktur berteknologi tinggi, keuangan, dan inovasi global hanya dalam waktu sekitar empat dekade.

 

photo
Salah satu dari gedung bergaya Eropa di Huawei Songshan Lake Base yang merupakan satu kampus riset dan pengembangan (R&D) utama Huawei yang berlokasi di Dongguan, Provinsi Guangdong, sekitar satu jam perjalanan dari Shenzhen. Luasnya sekitar 121 hektare dan dibagi menjadi 12 kawasan yang masing-masing terinspirasi dari kota-kota terkenal di Eropa, seperti Paris, Heidelberg, Verona, dan Granada. - (Republika/Lida Puspaningtyas)

Berita Lainnya

Rekomendasi