REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemanfaatan teknologi printer 3D di Indonesia terus menunjukkan tren meningkat seiring bertambahnya kebutuhan pelaku usaha dan industri kreatif terhadap proses produksi yang lebih efisien. Teknologi tersebut kini tidak lagi hanya digunakan untuk pembuatan prototipe, tetapi mulai dimanfaatkan dalam proses produksi skala kecil hingga menengah.
Riset Data Bridge Market Research memperkirakan nilai pasar material printer 3D, yang meliputi filament, powder, dan resin, meningkat dari 45,63 juta dolar AS pada 2024 menjadi 178,55 juta dolar AS pada 2032. Proyeksi tersebut mencerminkan pertumbuhan hampir empat kali lipat dengan compound annual growth rate (CAGR) sebesar 24,35 persen selama periode 2025-2032.
Meningkatnya prospek pasar tersebut juga mendorong produsen printer 3D memperluas pasar di Indonesia. Salah satunya Bambu Lab yang meluncurkan printer 3D A2L dan A2L Combo untuk pasar domestik melalui jaringan ritel resmi.
Marketing Manager Bambu Lab Samantha Zhang mengatakan, meningkatnya adopsi teknologi cetak 3D menunjukkan bahwa kebutuhan pasar tidak lagi terbatas pada kalangan penghobi.
"Melalui printer A2L, kami ingin mempermudah kreator dan pelaku UMKM di Indonesia mengakses teknologi cetak 3D yang mudah digunakan dan lebih terjangkau guna mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif," ujar Samantha.
Menurut dia, teknologi printer 3D kini mulai dimanfaatkan pelaku UMKM dan kreator sebagai alternatif proses produksi karena dinilai lebih cepat dan fleksibel dibandingkan metode konvensional, terutama untuk produksi dalam jumlah terbatas.