REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Penguatan tata kelola investasi menjadi fokus transformasi Indonesia Financial Group (IFG) di tengah program penyederhanaan struktur BUMN. Hingga Juli 2026, IFG telah memangkas 12 entitas sebagai bagian dari program streamlining di sektor asuransi dan penjaminan.
Kepala BP BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria mengatakan, transformasi tidak hanya diukur dari penyederhanaan struktur perusahaan, tetapi juga dari kemampuan memperbaiki kualitas pengelolaan investasi.
“Keberhasilan transformasi tidak hanya diukur dari penyederhanaan struktur perusahaan, tetapi juga dari perbaikan kualitas pengelolaan investasi,” kata Dony saat memanggil jajaran direksi IFG di kantor BP BUMN, Jakarta, Rabu (22/7/2026).
Menurut Dony, pertemuan tersebut membahas percepatan program streamlining, perkembangan transformasi holding, serta penguatan tata kelola dan efisiensi perusahaan asuransi BUMN.
Dony mengatakan, berbagai persoalan yang selama ini terjadi di industri asuransi berakar pada penempatan investasi yang tidak seimbang dengan kewajiban perusahaan (liabilities), sehingga meningkatkan eksposur risiko.
“Kita belajar dan memetakan persoalan-persoalan yang terjadi sebelumnya. Salah satu yang paling banyak terjadi adalah misinvestment. Selama ini banyak persoalan muncul karena tidak seimbang antara liabilities dan investasinya. Ini lah yang menyebabkan kita terekspos dengan risiko yang cukup besar,” ungkap Dony.
Ia juga menyoroti ketidakseimbangan portofolio investasi yang perlu segera dibenahi. Menurutnya, pertumbuhan kewajiban yang tidak diimbangi kinerja aset investasi, khususnya pada portofolio properti, berpotensi memperlebar kesenjangan keuangan perusahaan.
“Sekarang kita menyadari ada ketidakseimbangan dalam portofolio kita. Saya khawatir gap-nya justru semakin besar karena liabilities terus meningkat, sementara ada portofolio di sisi properti yang belum menghasilkan margin yang cukup untuk menutupi kewajiban tersebut. Ini harus diselesaikan dengan cepat,” tegas Dony.
Melalui transformasi holding dan program streamlining, IFG diarahkan membangun sistem pengelolaan investasi yang lebih disiplin, memperkuat manajemen risiko, serta memastikan pengembangan produk asuransi dilakukan berdasarkan analisis risiko yang sehat. Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan keberlanjutan industri asuransi BUMN sekaligus mencegah terulangnya kesalahan investasi di masa mendatang.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan program streamlining hingga Juli 2026 telah memangkas sekitar 250 entitas BUMN dan menghasilkan efisiensi biaya mencapai Rp50 triliun.