REPUBLIKA.CO.ID, MAKASSAR – Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (ASPRINDO) mendorong pengusaha di Sulawesi Selatan memperkuat hilirisasi komoditas unggulan agar nilai tambah ekonomi lebih banyak dinikmati pelaku usaha lokal. Langkah tersebut dinilai penting mengingat pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan telah melampaui rata-rata nasional dan didukung kinerja ekspor yang terus meningkat.
Ketua Umum DPP ASPRINDO Jose Rizal mengatakan, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan pada 2025 mencapai 5,32 persen atau lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional. Sementara itu, nilai ekspor provinsi tersebut telah mencapai 2,1 miliar dolar AS yang ditopang komoditas nikel, rumput laut, kakao, dan perikanan.
“Artinya apa? Dapur ekonomi Indonesia, salah satunya ada di Sulsel. Tapi pertanyaannya, berapa persen dari 2,1 miliar USD itu yang masuk ke kantong pengusaha bumiputera? Pertanyaannya, seberapa besar kontribusi dan hasil ekonomi tersebut masuk ke kantong pengusaha ASPRINDO?” kata Jose saat pelantikan pengurus Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) ASPRINDO Sulawesi Selatan di Makassar, Ahad (19/7/2026).
Menurut Jose, pengusaha daerah perlu memperkuat hilirisasi agar komoditas unggulan tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah. Ia mendorong pembangunan industri pengolahan berbasis potensi lokal melalui konsep Kampung Industri.
“Sulsel punya 6 komoditas, emas, nikel, rumput laut, perikanan, kakao, dan pariwisata bahari. Jangan lagi jual mentah. Kita bikin pabrik. Kita bikin Kampung Industri. 1 Desa 1 Produk Juara. Dari bahan baku Takalar, diolah di Makassar, dijual ke dunia,” ujar Jose.
Selain hilirisasi, Jose menilai penguatan rantai pasok menjadi faktor penting untuk meningkatkan daya saing produk lokal. Menurut dia, kolaborasi antara pengusaha besar dan UMKM perlu diperkuat agar akses terhadap modal, teknologi, dan pasar semakin terbuka.
“Asprindo adalah jembatan. Kita satukan modal, teknologi, dan pasar. Kalau rantai pasok kuat, maka tidak ada lagi cerita barang impor lebih murah,” katanya.
Jose juga mendorong pelaku usaha meningkatkan standar produk melalui sertifikasi, pemanfaatan teknologi, dan penguatan merek agar mampu bersaing di pasar ekspor.
“Cukup sudah stigma ‘produk lokal kualitas nomor 2’. Mulai hari ini kita lawan dengan sertifikasi, teknologi, dan branding. Produk Sulsel harus masuk rak di Dubai, di Jepang, di Eropa. Bukan mimpi. Itu target,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Dewan Pembina ASPRINDO Jamaluddin Jompa mengatakan dunia akademik siap mendukung peningkatan daya saing pelaku usaha melalui pemanfaatan hasil riset dan penguatan kewirausahaan.
Sementara itu, Ketua DPW ASPRINDO Sulawesi Selatan Abu Hasan menyatakan kepengurusan baru telah menyiapkan tujuh klaster program untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing pengusaha di daerah.
“Insyaa Allah pengusaha ASPRINDO di daerah ini siap naik kelas dan membangun daya saing,” kata Abu Hasan.