Selasa 07 Jul 2026 15:40 WIB

Saat IHSG Terkoreksi 35 Persen, Jumlah Investor Pasar Modal Naik 42 Persen

IHSG ditutup pada level 5.643,19 pada akhir Juni 2026.

Rep: Eva Rianti/ Red: Ahmad Fikri Noor
Warga mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (5/6/2026).
Foto: Republika/Thoudy Badai
Warga mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (5/6/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Sektor pasar modal Indonesia mencatatkan kinerja yang variatif. Di tengah kondisi ketidakpastian geoekonomi dan geopolitik, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi hampir 35 persen. Namun, di sisi lain, jumlah investor di pasar modal Indonesia justru bertambah 42 persen.

"Pasar saham domestik pada Juni 2026 masih berada pada fase konsolidasi. Hal ini dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global, persepsi investor atas kondisi dan kebijakan domestik, serta adanya penyesuaian atau rebalancing portofolio investor," kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Juni 2026 yang digelar secara daring, Selasa (7/7/2026).

Baca Juga

Menurut data OJK, IHSG ditutup pada level 5.643,19 pada akhir Juni 2026 atau turun sekitar 7,9 persen secara bulanan (month to month/mtm). Angka tersebut terkoreksi 34,74 persen sepanjang tahun 2026 atau secara year to date (ytd).

"Namun, memasuki awal Juli 2026 ini, tekanan di pasar terpantau mereda dan akan terus kami cermati perkembangannya ke depan," ujarnya.

Di tengah dinamika tersebut, resiliensi dan likuiditas pasar modal domestik diklaim tetap terjaga. Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) di pasar saham mencapai Rp 22,23 triliun pada Juni 2026. Investor asing pada periode tersebut membukukan net sell saham senilai Rp 19,63 triliun.

Sementara itu, di pasar obligasi, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) pada Juni 2026 ditutup pada level 429,85 atau terkoreksi 1,69 persen (mtm). Di sisi lain, minat investor asing terhadap Surat Berharga Negara (SBN) terpantau positif, tercermin dari net buy di pasar SBN sebesar Rp 22,43 triliun (mtm).

Kemudian, kinerja industri pengelola investasi mengalami moderasi. Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksadana mencapai Rp 652,9 triliun atau turun 4,79 persen (mtm) dan 3,32 persen (ytd). Pada industri reksadana terjadi net redemption sebesar Rp 23,75 triliun (mtm) atau Rp 2,14 triliun (ytd).

Seiring dengan dinamika kinerja industri pasar modal, OJK mencatat jumlah investor pasar modal mengalami pertumbuhan positif. Jumlah investor pasar modal saat ini hampir menembus 29 juta Single Investor Identification (SID).

"Jumlah investor di pasar modal melanjutkan tren peningkatan secara signifikan. Tercatat penambahan sebanyak 1,21 juta investor (mtm) pada Juni 2026, sehingga total jumlah investor telah mencapai 28,96 juta atau tumbuh 42,22 persen secara year to date," ungkap Hasan.

Hasan melanjutkan, dari sisi intermediasi, hingga Juni 2026 (ytd) nilai fundraising oleh korporasi di pasar modal telah mencapai Rp 112,67 triliun. Selain itu, masih terdapat 11 rencana penawaran umum dalam pipeline. Adapun penggalangan dana melalui securities crowdfunding (SCF) telah mencapai Rp 1,98 triliun.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi